Kopi Mbajing, Muncul Citarasa Manis Meski Tanpa Gula

MERAPI-AMIN KUNTARI
Heri meracik kopi di stand Kopi Mbajing.

PERBUKITAN Menoreh Kulonprogo kini mulai tersohor dengan kenikmatan kopinya. Ada dua jenis kopi yang diolah dari hasil panen petani di sana, yakni robusta dan arabica.

Dari sekian deret produk kopi dari Perbukitan Menoreh, ada Kopi Mbajing milik Heri Susanto (49), warga Sinogo Pagerharjo Samigaluh. Diberi nama Kopi Mbajing, lantaran Heri mengambil sebuah nama dusun di Desa Pagerharjo yakni Gegerbajing.

“Gegerbajing ini membuat Pagerharjo terkenal. Ketika mau pergi ke Pagerharjo, sering bilang mau ke Mbajing. Selain itu, saya juga sengaja ingin membuat konsumen penasaran ketika mendengar nama Kopi Mbajing,” kata Heri saat membuka stand kopi dalam sebuah acara di Dinas Pariwisata Kulonprogo, kemarin.

Heri kemudian bercerita, produksi kopi sudah dilakoninya sejak 2017 lalu. Ia meyakini, Kopi Mbajing miliknya punya banyak keistimewaan. Sebab, biji kopi yang dipetik dari Perbukitan Menoreh selalu dipilih yang sudah merah. Heri memproduksi dua jenis kopi, yakni arabica dan robusta. Kopi arabica diambil dari wilayah ketinggian seperti Suroloyo dan Keceme, sementara robusta dari daerah di bawahnya.
“Kenikmatan kopi saya ini, yaitu bisa keluar citarasa manisnya meski tidak diberi gula,” ujarnya.

Selain citarasa manis, menurut Heri, bau kurang sedap dari kopi juga tidak ditemui pada Kopi Mbajing. Jika kebanyakan olahan kopi ada bau tanah, bau apek dan sebagainya, Kopi Mbajing tidak demikian. Hal ini karena Heri selalu turun langsung dalam proses pengolahan mulai dari pasca panen seperti penjemuran.

Ditanya terkait jumlah produksi, Heri menyebut pada tahun lalu dirinya memproduksi Kopi Mbajing sekitar 1,8 ton. Dari sekian itu, 1 ton adalah kopi robusta, kemudian sisanya yakni 8 kuintal adalah arabica. Heri kemudian memasarkan produknya melalui kedai milknya yakni Kedai KopiKu di Pagerharjo Samigaluh.
“Saya titip ke kedai lain juga di sekitar kebun teh Kulonprogo,” ucapnya.

Dengan kemasan apik, Heri mengembangkan pemasaran secara online hingga Kopi Mbajing bisa sampai ke berbagai daerah se-Indonesia. Ia membanderol dengan harga Rp 20.000 untuk kopi robusta kemasan 100 gram dan Rp 30.000 untuk kopi arabica kemasan 100 gram.
“Kalau diseduh di kedai saya, robusta bisa dinikmati dengan harga Rp 10.000 per cup dan arabica Rp 15.000 per cup. Kedai saya juga bisa mengedukasi pengunjung tentang kopi dan vanili,” imbuh Heri.

Heri berharap, melalui Kopi Mbajing dirinya bisa mengedukasi kepada petani dan kaum muda Kulonprogo tentang potensi kopi. Dengan demikian, ke depan potensi kopi di Perbukitan Menoreh bisa tergarap maksimal dan bertahan di tengah perkembangan zaman. (Unt)

Read previous post:
SULTAN LANTIK 3 BUPATI HASIL PILKADA-Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi Jadi Tugas Utama

Close