Penyediaan Rumah Sakit Darurat di Kulonprogo Mendesak

WATES (HARIAN MERAPI) – Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kulonprogo butuh penanganan serius. Ada dua kebijakan yang mungkin diambil, yakni penambahan ruang isolasi atau pembuatan rumah sakit darurat.

Wakil Bupati Kulonprogo yang merupakan Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kulonprogo, Fajar Gegana berpendapat, banyak pasien positif Covid-19 di wilayahnya yang tidak tertangani dengan baik. Hal itu disebabkan keterbatasan ruang isolasi di rumah sakit bagi pasien bergejala. Penambahan kasus positif Covid-19 di Kulonprogo yang masih tinggi membuat ruang isolasi di rumah sakit rujukan selalu penuh.

“Dari awal saya sudah kasih masukan ke Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk menambah ruang isolasi atau membuat rumah sakit darurat agar mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 bisa tertangani dengan baik,” kata Fajar, Selasa (19/1).

Fajar kemudian mempertanyakan ketersediaan ruangan di rumah sakit rujukan yang masih memungkinkan digunakan untuk ruang isolasi pasien Covid-19. Jika dilakukan penambahan ruang isolasi dengan memanfaatkan ruangan lain, ia mengkhawatirkan pelayanan penyakit lain justru akan terganggu.

“Karena itulah, solusi lainnya adalah membuat rumah sakit darurat. Rumah sakit ini akan terkoneksi dengan DIY sehingga dapat menjadi tempat rujukan atau merujuk pasien ke rumah sakit lain se-DIY,” jelasnya.

Fajar menegaskan, tambahan ruang isolasi atau rumah sakit darurat tersebut diperuntukkan bagi pasien positif Covid-19 yang bergejala. Saat ini, jumlah kasus positif yang bergejala di Kulonprogo cukup tinggi, mencapai 50 persen.

Dijelaskannya, pasien bergejala membutuhkan penanganan tenaga medis. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya perburukan pada pasien. Sementara yang tidak bergejala, bisa melakukan isolasi mandiri di shelter atau bahkan di rumah.

Terkait evaluasi pelaksanaan kebijakan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di Kulonprogo, menurut Fajar belum bisa disimpulkan lantaran temuan kasus positif Covid-19 saat ini merupakan hasil tracing yang dilakukan lima hari lalu atau bahkan sebelum pelaksanaan PTKM. Antrean sampel yang belum diperiksa di BBVet bahkan mencapai ratusan.

“Kami berharap, masyarakat lebih berhati-hati dan selalu melaksanakan protokol kesehatan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19,” kata Fajar. (Unt) 

 

Read previous post:
JNE Bantu Pembangunan Masjid Al-Farabi SMAN I Wonosari

WONOSARI (HARIAN MERAPI) - Sebagai perusahaan milik anak bangsa asli Indonesia, JNE berkomitmen untuk turut membangun bangsa dan negara. Selain

Close