Bupati Kulonprogo Sambangi Pengusaha Rempeyek Dalimin Budi Utomo

MERAPI-AMIN KUNTARI
Bupati Kulonprogo melihat proses pembuatan rempeyek

DALIMIN Budi Utomo (78) sedang sibuk menggoreng rempeyek saat Bupati Kulonprogo, Sutedjo, menyambangi kediamannya di Jogoyudan Wates. Pria sepuh ini pun menyambut ramah kedatangan bupati beserta rombongan yang berniat memberikannya bantuan.
Dalimin merupakan salah satu lansia Kulonprogo yang tetap bekerja meski usianya sudah senja. Sehari-hari, ia membuat rempeyek kemudian dijajakan di seputaran teteg wetan, atau perlintasan kereta api sisi timur, Wates. Semua itu dilakukannya demi memenuhi kebutuhan hidup bersama seorang anak dan istrinya yang menderita stroke parah.

“Uangnya buat perawatan istri seperti beli pampers, tisu, juga makan dan kebutuhan sehari-hari,” kata Dalimin kepada wartawan. 
Istri Dalimin, Rantem Mintarsih, hanya bisa tiduran di lantai sepanjang hari. Ia tak bisa menggerakkan anggota tubuh, bahkan tak bisa berbicara. Dalimin sudah berulangkali membawanya berobat, namun Rantem masih belum sembuh dari stroke yang dideritanya selama setahun terakhir. Sementara anak semata wayang Dalimin, lebih memilih merawat ibunya.
Dalimin bercerita, ia bersama anak istrinya sempat tinggal di daerah Bandung. Di sana, mereka berjualan nasi gudeg. Namun, Dalimin kemudian memutuskan pulang kampung saat usianya mulai menua. 
“Jualan rempeyek ini baru dua tahun terakhir,” ucapnya.

Meski tidak mengantongi keahlian membuat rempeyek, Dalimin tetap semangat. Ia mulai coba-coba membuat cadonan cmilan bercita rasa gurih itu sampai bisa menghasilkan rasa dan kerenyahan yang pas. Adonan yang semula sedikit pun bertambah banyak sesuai permintaan pasar.
Dalam sehari, Dalimin bisa membuat 90 bungkus yang masing-masing berisi dua butir rempeyek. Produk itu dijualnya dengan harga Rp 2.000. Ia menunggui dagangan tepat di depan palang pintu kereta api, mulai selepas Ashar hingga Isya.
“Kalau masih sisa, saya jajakan keliling Alun-Alun Wates. Saya jualan di atas sepeda,” ucapnya.

Dalimin memang menjajakan rempeyeknya dengan menggunakan sepeda. Kakinya masih kuat mengayuh, meski usianya sudah hampir 80 tahun. Dalimin bahkan mengaku badannya justru terasa tidak enak jika tidak digunakan untuk bergerak.
“Kita sudah dikasih fisik sempurna sama Tuhan, harus dimanfaatkan. Saya merasa lebih sehat kalau bikin dagangan dan jualan,” imbuhnya.

Beruntung, rempeyek Dalimin selalu habis. Sebagian membeli karena iba kepada pria sepuh itu, sebagian lain memang suka dengan rasa rempeyeknya. Dari hasil berjualan rempeyek, Dalimin memperoleh keuntungan sekitar Rp 50.000. Sebagian di antaranya kemudian digunakan untuk belanja bahan.
“Biasanya saya bikin adonan mulai pukul 07.00 WIB. Jadi selalu baru,” katanya.

Dalimin kemudian mengeluhkan sulitnya berjualan saat musim hujan. Saat hujan tiba, ia harus berteduh di emperan konter HP sekitar teteg wetan agar tidak kehujanan. Namun, ia tak bisa berkeliling Alun-Alun Wates untuk menghabiskan sisa dagangan karena takut sakit.
“Begini saja saya sudah bersyukur. Kalau badan pas capek ya libur,” pungkasnya. (Unt)

Read previous post:
Bantul Jadi Pusat Industri Kreatif

KASIHAN (MERAPI) - Masyarakat Mebel dan Kerajinan Bantul sepakat untuk mendukung pasangan Abdul Halim Muslih dan Joko Purnomo (AHM-JP) maju

Close