Lestarikan Sendang dengan Kenduri Wilujengan

SEBAGAI upaya pelestarian sendang atau mata air di pegunungan, warga Dusun VI Gotakan Panjatan Kulonprogo menggelar kenduri wilujengan di Sendang Terbolo Pusuh, Rabu (25/9). Sendang ini diyakini merupakan petilasan Ki Sadewo, putra dari pahlawan nasional Pangeran Diponegoro.

Menurut ketua panitia acara yang juga merupakan turunan ke delapan dari Pangeran Diponegoro, A Rufaidah, acara ini baru pertama kali digelar keluarga trah Sadewo bersama masyarakat. Selain itu mendapat dukungan dana dari Dinas Kebudayaan Kulonprogo melalui dana keistimewaan (danais). Kegiatannya antara lain, warga berkumpul di dekat sendang untuk melakukan doa bersama. Pada akhir acara, warga juga melakukan santap siang bersama sebagai simbol kerukunan.

“Kegiatan seperti ini merupakan wujud napak tilas Raden Singlon atau Ki Sadewo, putra dari Pangeran Diponegoro. Sendang Terbolo Pusuh sebelumnya sempat menjadi tempat beliau bertapa,” kata perempuan yang akrab disapa Ida ini.

Dari sekian sendang yang ada di Gotakan, Terbolo Pusuh dianggap punya nilai sejarah paling kental. Para keturunannya dituntut untuk paham sejarah serta melestarikan apa yang menjadi peninggalannya. Upaya pelestarian sendang itu ternyata mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan melalui program ekspos budaya berupa memetri sendang. 

Ida berpendapat, Sendang Terbolo Pusuh merupakan tempat yang sakral dan bermakna spiritual. Karena termakan usia lebih dari 100 tahun lamanya, tempat yang semula merupakan goa rimbun itu kini telah berubah bentuk, namun tetap mengalirkan air yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Di dalamnya ada prasasti. Kami akan berusaha untuk merawat dan membenahi tanpa melampaui batasan sakral dan spiritualnya,” imbuhnya.

Sebagai upaya nyata pelestarian Sendang Terbolo Pusuh, masyarakat akan memulai dengan memperbaiki jalan sekitarnya. Sebab petilasan ini kerap digunakan masyarakat atau orang-orang berkepentingan dalam melakukan tirakat atau ritual, seperti di malam 1 Suro.

Kepala Seksi Adat dan Tradisi, Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Tayem mengatakan, Memetri Sendang Terbolo Pusuh merupakan ritual pertama yang digelar pihaknya. Pada tahun ini, acara serupa akan digelar di lima sendang di sisi utara, timur, barat, tengah dan selatan Kulonprogo.

“Kami kucurkan anggaran Rp 5,9 juta dari danais untuk tiap penyelenggaraan. Kami juga mengimbau agar mereka tak membangun sendang secara permanen karena bisa mematikan fungsinya sebagai mata air,” katanya. (Unt)

Read previous post:
Catat Tanggalnya, Malioboro Coffee Night Kembali Digelar

FESTIVAL kopi bertajuk Malioboro Coffee Night kembali digelar tahun ini di pedestrian Malioboro, Rabu (2/10) mendatang. Festival kopi untuk menyambut

Close