Empat Varian Keripik Bakso Laris Manis

BERBEKAL kemampuannya membuat bakso, Erni Siwi Karyanti (43) terus berinovasi menciptakan olahan makanan bernilai ekonomi tinggi. Wirausaha perempuan dari Kulonprogo ini pun berhasil meraup untung dari penjualan olahan baksonya, hingga bisa menjadi sumber penghasilan bagi keluarga.

Ditemui Merapi dalam acara festival pangan lokal yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo belum lama, Erni memamerkan sejumlah olahan bakso hasil inovasinya, mulai dari tahu bakso hingga keripik bakso aneka rasa.  Ada empat varian rasa keripik bakso dan semua bisa laris manis di pasaran offline maupun online.

“Awalnya saya berdikari dengan berjualan bakso,” kata Erni mengawali perbincangan.

Tak puas hanya berjualan bakso saja, pada 2013 lalu ia mencoba membuat produk makanan lain yakni tahu bakso. Cukup banyak konsumen yang memuji tahu bakso buatan Erni hingga menambah semangatnya untuk terus memproduksi.

Dengan harga Rp 20.000 per kemasan isi 10 buah, tahu bakso ini dipasarkan Erni ke sejumlah supermarket ternama di DIY. Usahanya berkembang sangat pesat, hingga saat ini mampu memproduksi 1.000 tahu bakso per hari. 

Lagi-lagi, semangat Erni untuk berinovasi kembali muncul. Sukses memproduksi dan memasarkan tahu bakso, ia meluncurkan produk baru berupa keripik bakso. Ada empat varian rasa yang ditawarkan untuk produk ini yakni original, pedas setan, keju dan pedas manis.

“Keripik bakso muncul setelah saya diajak pameran ke Jakarta oleh dinas. Kalau saya membawa produk basah, di sana tidak bisa memamerkan apa-apa karena sudah basi. Jadi saya buat produk kering yakni keripik bakso,” kata Erni

Pembuatan keripik bakso yang dimulai Erni pada 2016 ini tidak mudah karena ia harus membuat produk basah menjadi kering. Ia membutuhkan teknik khusus agar keripik baksonya bisa renyah, lezat dan tahan lama.

Erni mengklaim, produknya punya cita rasa istimewa karena menggunakan daging ayam asli tanpa kulit. Produknya juga tidak menggunakan penyedap rasa.

“Saya berani menggunakan komposisi seimbang antara daging dengan tepung, jadi rasanya enak,” imbuh Erni.

Di rumah produksinya, Gendol Banyuroto Nanggulan, keripik bakso ini kemudian dikemas dalam wadah dengan isi 90 gram dan dijual seharga Rp 20.000 per kemasan. Seluruh varian rasa harganya sama, namun menurut Erni, rasa original dan pedas setan lah yang paling banyak diminati konsumen di pasaran.

Dibantu dua karyawan, dalam satu bulan Erni memproduksi 10 kilogram keripik bakso atau sekitar 120 kemasan. Produk ini kemudian dipasarkan melalui toko-toko se-DIY, juga dipasarkan secara online lewat media sosial facebook dan instagram serta melalui reseller. “Saya berharap, usaha ini bisa berkembang sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar,” pungkasnya. (Unt)

Read previous post:
Pahami, Cegah dan Atasi Konflik Pernikahan

EVEN atau perhelatan yang memberi banyak manfaat dapat digelar model kerjasama. Seperti halnya Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) DIY bekerjasama

Close