ATASI HARGA MURAH SAAT MUSIM PANEN-Petani Olah ‘Crispa’ Keripik Kelapa

SETELAH sukses memproduksi gula semut, daerah penghasil kelapa di Kulonprogo yakni Kecamatan Kokap, meluncurkan produk baru. Kelapa hasil perkebunan masyarakat setempat diolah menjadi camilan keripik yang lezat dan renyah dengan nama Crispa atau crispy kelapa.

Pembuatan crispa digawangi Kelompok Tani Hutan (KTH) Manunggal Karya di Dusun Bibis Desa Hargowilis. Kelompok ini berdiri pada November tahun lalu atas bimbingan BKSDA DIY bersama Pemkab Kulonprogo. Potensi Desa Hargowilis digali untuk kemudian dikembangkan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat.

“Penggalian potensi yang dilakukan mengerucut pada kelapa sebagai hasil perkebunan kami. Namun sayangnya, harga kelapa saat musim panen masih sangat murah yakni Rp 500 sampai Rp 1.000 per butir,” kata Ketua KTH Manunggal Karya, Ari Widiyanto, saat disambangi wartawan di rumah produksi Crispa, belum lama.

Bersama pihak terkait, KTH Manunggal Karya kemudian berupaya mengangkat nilai tambah kelapa dengan mengolah komoditi ini menjadi keripik. Ari mengaku memperoleh ilmu pembuatan keripik kelapa dari internet. Ia menjelaskan, produksi Crispa melewati sejumlah tahapan. Kelapa yang sudah dipetik, dikupas dan dicukil kemudian dirajang tipis menggunakan alat khusus. Setelahnya, direndam dengan perasa, lalu dikukus sampai matang. Jika dirasa sudah matang, irisan kelapa dimasukkan ke dalam oven, kemudian dipanggang selama 10 jam. Panas oven harus diatur stabil agar keripik yang dihasilkan bisa matang sempurna.

“Perlu diingat, kelapa yang digunakan harus pas, tidak terlalu tua atau muda. Kalau istilah Jawa nya kementho,” jelas Ari.

Hasilnya, keripik kelapa produksi KTH Manunggal Karya tidak hanya renyah, namun juga lezat. Ada empat varian rasa yang ditawarkan yakni original, gula pasir, gula jawa dan jahe.

Dalam sekali produksi, sedikitnya ada 40 butir kelapa atau 12kg yang diolah dan menjadi 50 bungkus Crispa kemasan 90 gram dengan harga Rp 15.000. Untuk kemasan 60 gram harganya lebih murah, yakni Rp 9.000. Ari menyebut, proses produksi tidak dilakukan setiap hari, melainkan hanya 2-3 kali sebulan, atau 4-5 kali sebulan saat ramai pesanan.

Produk tersebut, kemudian dipasarkan di sejumlah toko modern di Kulonprogo. Kelompok juga mencoba mengenalkan produk melalui internet agar bisa dipesan konsumen seluruh Indonesia. Produk ini diklaim sebagai camilan sehat karena tidak mengandung minyak serta bisa tahan cukup lama yakni tiga bulan.”Ada 20 anggota kelompok yang bekerja dalam proses produksi secara bergantian,” ucapnya.

Hingga kini, KTH Manunggal Karya masih terus berbenah, mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan pihak terkait. Akurasi produk ini diharapkan dalam mencapai kesempurnaan sehingga produksi dan pemasaran Crispa terus berkembang demi kesejahteraan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Ke depan, KTH Manunggal Karya bahkan berencana membuat olahan lain dari kelapa terutama untuk yang muda dan tua agar seluruh hasil panen masyarakat bisa bernilai ekonomi tinggi. Bila memungkinkan, produk-produk ini dapat dijual di bandara Kulonprogo dengan menyasar wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu pembeli Crispa, Shohi Khairani (21) mendapat informasi tentang produk ini dari teman kuliahnya. Camilan tersebut dinilainya punya cita rasa yang pas anatara manis dan gurih.

“Ini camilan sehat yang tidak pakai minyak dan pewarna. Harganya juga terjangkau, nggak nyesel beli. Ini cocok buat oleh-oleh,” katanya. (Unt)

Read previous post:
GEBYAR ANUGERAH ‘KITA HARUS BELAJAR’: Cara Didik Harus Mengikuti Zaman

SLEMAN (MERAPI) - Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) begitu cepat sehingga mengubah pola pikir, budaya, dan tingkah laku sehari-hari.

Close