LEWATI PULUHAN KALI KEGAGALAN-Pantang Putus Asa Produksi Bakpia

Dias dan Bagus menunjukkan produk Bakpia Kembar. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

BERULANG kali gagal memproduksi bakpia, tak lantas membuat Miftah Nur Fidyastuti (28) putus asa. Bersama suami, Bagus Anom Wulan (30), ia tetap gigih bereksperimen mencoba resep demi resep sampai menemukan cita rasa yang pas. Perempuan yang akrab disapa Dias ini, mengaku sudah bertekad menciptakan produk makanan yang bisa menjadi ciri khas toko oleh-olehnya.

Dalam perbincangan santai dengan Merapi di pusat oleh-oleh miliknya, Toko Kembar, Wakapan, Wates, Kulonprogo, kemarin, Dias membeberkan perjalanan usahanya dalam memproduksi bakpia. Perempuan ayu ini semula hanya fokus mengurus toko oleh-oleh peninggalan kakeknya, dengan menjual produk-produk titipan.

“Termasuk bakpia. Lama kelamaan saya berpikir, mau sampai kapan bantu jualin produk orang. Bukankah lebih baik jika saya punya produk sendiri yang bisa jadi ciri khas toko ini,” kata Dias.

Saat itu, modal utama yang dimiliki Dias hanyalah tekad. Ia mengaku tidak mengantongi pengetahuan apalagi pengalaman tentang proses pembuatan bakpia. Latar belakang pendidikannya jauh dari tata boga, yakni kebidanan. Sementara suami, sehari-hari bekerja di rumah tahanan sehingga tidak paham tentang pembuatan bakpia. Beruntung, dua karyawan yang bekerja di tokonya pernah bekerja pada pengusaha bakpia sehingga Dias bisa menggali ilmu dari keduanya.

Ternyata, dua tempat usaha yang sempat menjadi naungan karyawannya membuat ilmu yang disampaikan kepada Dias juga berbeda. Ia pun harus berpikir keras untuk meramu resep yang tepat. Beruntung, tekad kuat Dia mendapat dukungan dari suami tercintanya, Bagus.

“Mas Bagus beli alat-alat untuk membuat bakpia. Pertama bikin, cuma pakai 3 kg kacang hijau,” ucapnya.

Kendati demikian, awal perjalanan usaha Dias tak berjalan mulus. Ia berulang kali gagal memproduksi bakpia yang empuk dan enak. Kegagalan mulai dialami pada pembuatan kulit hingga isi. Tak terhitung banyaknya bakpia yang harus dibuang karena tekstur keras dan rasa tak enak.

Dias tak patah arang. Ia terus mencoba menciptakan resep bakpia yang pas. Kondisi ini juga didorong banyaknya peralatan yang sudah terlanjur dibeli oleh Bagus. Nilainya tak sedikit, mencapai puluhan juta rupiah. Mau tidak mau, keduanya harus tetap mencoba agar modal peralatan yang sudah dikeluarkan tak sia-sia.

“Butuh waktu tiga bulan sebelum akhirnya kita berhasil bikin bakpia yang empuk dan enak. Lalu kita bagi ke tetangga dan saudara agar lebih banyak masukan. Pas mereka bilang enak, barulah kita berani jual. Sekitar April kemarin mulainya,” terang Dias.

Dias kemudian memberi nama bakpianya seperti nama toko oleh-olehnya, yakni Kembar. Sampai di sini, ia masih harus bekerja keras. Sebab, tidak mudah bagi produk baru Dias untuk masuk ke pasaran. Pembeli yang datang ke toko masih saja memilih bakpia ternama, meski sudah disodori Bakpia Kembar. Dias kemudian berinisiatif memberikan tester. Pembeli boleh mencicipi sebelum membeli.

“Dari situlah, mereka jatuh hati. Katanya bakpia saya empuk meski sudah dingin. Saya jadi lebih bersemangat. Bakpia Kembar tidak hanya diproduksi dengan rasa kacang hijau saja, tapi juga ada varian baru berupa cokelat dan keju,” urainya.

Harga yang ditawarkan Dias untuk produknya juga terbilang murah, yakni Rp 15.000 untuk isi 15 dan Rp 19.000 untuk isi 20. Namun, harga bakpia keju dan cokelat berbeda, yakni Rp 18.000 untuk isi 15 dan Rp 23.000 untuk isi 20.

Tiga bulan berjalan, Dias sudah berani menyingkirkan bakpia basah merk lain dari tokonya. Produksi bakpianya pun sudah lumayan, yakni 50-70 dus per hari. Ia memang tidak mau memproduksi banyak demi menjaga kualitas produk agar tetap fresh. Kerja keras Dias diapresiasi suaminya, Bagus. Terlebih saat libur akhir pekan atau tanggal merah permintaan konsumen meningkat tajam.

“Seperti libur Lebaran kemarin, kita produksi 4.000 dus selama 10 hari. Semuanya ludes diborong pembeli,” kata Bagus sembari menyampaikan, kini usahanya sudah dibantu enam karyawan.

Saat ini, pemasaran Bakpia Kembar memang masih sebatas melalui Toko Kembar dan rumah produksinya di wilayah Ngestiharjo. Baik Dias maupun bagus belum berniat memasarkan secara online, mengingat daya tahan bakpia hanya lima hari sehingga waktu pengirimannya perlu diperhitungkan. “Kalau ada rezeki lebih, saya malah ingin membuka outlet baru untuk memasarkan Bakpia Kembar,” pungkas Bagus. (Unt)

Read previous post:
MERAPI-SAMENTO SIHONO Petugas mengamankan jamu herbal hasil investasi bodong yang diembangkan PT Krisna Alam Sejahtera.
370 Warga Yogya Tertipu Investasi Bodong

DEPOK (MERAPI)- Ratusan ibu rumah tangga di Yogya mengaku tertipu investasi bodong berkedok mitra bisnis jamu herbal yang dikembangkan PT

Close