Produksi Batik Harus Ramah Lingkungan

Gusti Kanjeng BRAY meninjau bazar batik dalam Gebyar Batik Kulonprogo di Alun-alun Wates. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Gusti Kanjeng BRAY meninjau bazar batik dalam Gebyar Batik Kulonprogo di Alun-alun Wates. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

WATES (MERAPI) – Proses produksi batik dinilai tidak ramah lingkungan karena kerap menggunakan pewarna kimia, limbahnya tidak diolah serta boros pemakaian air. Sebagai solusinya, para perajin di wilayah Kulonprogo kemudian diwanti-wanti untuk mengubah proses produksi menjadi lebih ramah lingkungan.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Dekranasda DIY, Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Pakualam, saat membuka Gebyar Batik Kulonprogo sebagai bagian dari Jogja International Batik Biennale 2018 di Alun-alun Wates, Jumat (7/9). Gusti Kanjeng BRAY mewanti-wanti agar para perajin batik di Kulonprogo menggunakan pewarna alam dalam proses produksinya.

“Selain itu, juga harus hemat air dalam proses pencucian batik, serta mengolah limbah dengan baik,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Gusti Kanjeng BRAY mengaku kagum dan terkesima dengan produk batik hasil para perajin. Istri dari Wakil Gubernur DIY Paku Alam X ini bahkan beranggapan bahwa batik-batik karya perajin Kulonprogo layak berada di Jakarta.

Terkait penyelenggaraan JIBB di empat kabupaten dan satu kotamadya se-DIY, menurut Gusti Kanjeng BRAY, merupakan konsekuensi Yogyakarta karena sudah ditetapkan sebagai kota kerajinan batik dunia. Melalui acara ini, diharapkan batik DIY bisa lestari, hingga bisa mempertahankan ikon DIY berupa predikat Jogja World Batik City. JIBB, lanjutnya, merupakan ajang evaluasi perkembangan batik di masing-masing wilayah, sekaligus sebagai referensi evaluasi Jogja World Batik City untuk melihat dampak kota batik dunia.

“Penyelenggaraan Gebyar Batik Kulonprogo selama tiga hari, yakni sampai Minggu (9/9) nanti, diharapkan bisa merepresentasikan geliat batik Kulonprogo,” ujarnya.

Terkait maraknya produk batik printing saat ini, Gusti menegaskan bahwa batik yang sesungguhnya hanyalah batik tulis dan cap. Produk di luar itu bukanlah batik, sehingga masyarakat sebagai konsumen harus lebih jeli saat memilih produk.

Sementara Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo menyampaikan apresiasi penyelenggaraan Gebyar Batik Kulonprogo. Kegiatan ini, bisa menjadi motivasi bagi para pelaku usaha batik untuk berkarya membawa nama baik masing-masing. Melalui Gebyar Batik, bisa diupayakan pelestarian batik di DIY bahkan Indonesia untuk membangkitkan sektor perekonomian, pariwisata dan budaya. (Unt)

Read previous post:
Rambu Tertutup Vandalisme Bahayakan Pengendara Lalu Lintas

UMBULHARJO (MERAPI) - Corat-coret tak beraturan atau vandalisme di jalan terutama di rambu-rambu lalu lintas di Kota Yogyakarta masih gampang

Close