Pengedropan Air Bersih di Perbukitan Terkendala Armada

MERAPI-BAMBANG PURWANTO Akibat kekeringan, warga Desa Planjan berburu air dari pipa bocor
MERAPI-BAMBANG PURWANTO
Warga di Gunungkidul berburu air dari pipa bocor

WATES (MERAPI) – Jumlah armada untuk keperluan pengedropan air bersih ke wilayah perbukitan di Kulonprogo masih sangat minim. Saat ini, hanya ada satu armada yang bisa mengakses wilayah perbukitan, hingga menyebabkan pengedropan air tidak maksimal.

Koordinator Droping Air Tagana se-Kulonprogo, Ibnu Wibowo, Senin (3/9) menyampaikan, saat ini ada empat armada droping air yang dimiliki Kulonprogo. Satu armada berada di Badan Penganggulanan Bencana Daerah (BPBD), satu lainnya di Palang Merah Indonesia (PMI) kemudian dua sisanya di Tagana. Dari sekian itu, hanya ada satu armada yang bisa mengakses wilayah perbukitan seperti Samigaluh dan Girimulyo.

“Satu armada itu milik kami,” katanya.

Pesoalan droping air, menurut Ibnu, tidak hanya pada keterbatasan armada saja, namun juga membutuhkan pengemudi yang andal. Di Dusun Nyemani, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh misalnya, tidak semua sopir bisa menjalankan armada droping mengingat di sana ada tanjakan yang berkelok hingga bisa menyebabkan armada terperosok.

”Itu pun kondisi tankinya penuh air. Kalau isi tanki tidak penuh, pas belok bisa terpelanting. Tanjakan di Nyemani memang butuh sopir yang jago untuk menyiasati,” jelasnya.

Selama ini, pengedropan air ke wilayah Samigaluh dilakukan dua kali seminggu. Namun dalam satu hari perjalanan, pihaknya hanya bisa menyambangi satu titik kekeringan akibat jauhnya jarak tempuh perjalanan. Biaya operasional yang mepet memaksa Tagana melakukan subsidi silang anggaran dari lokasi lain.

“Bantuan operasional droping air ke Samigaluh sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Di Kecamatan Samigaluh, enam dari tujuh desa mengalami kekeringan pada musim kemarau ini. Kepala Dusun Nyemani, Wiganto berharap, bantuan droping air bisa lebih cepat sampai mengingat wilayahnya sudah mengalami kekeringan selama empat bulan.

“Selama itu, kami hanya mendapatkan jatah dropping air dua minggu sekali. Mungkin karena titiknya banyak, jadi harus antre,” katanya.

Sementara Kepala Desa Sidoharjo, Umari menyebutkan, hampir seluruh kawasan desa Sidoharjo mengalami kekeringan saat ini. Sumber mata air telah yang ada bahkan sudah kering sejak awal Juli lalu.

“Sungai dan mata air semuanya kering,” keluhnya. (Unt)

Read previous post:
JAMU PSBS BOLEH DITONTON – PSIM Diizinkan Main di SSA

  BANTUL (MERAPI) - Dua hari jelang pertandingan kandang menjamu PSBS Biak dalam lanjutan kompetisi Liga 2 Grup Timur 2018,

Close