PAGUYUBAN JEMPARINGAN LANGEN PROGO – Uji Emosi Lewat Jemparingan Malam Hari

MERAPI-AMIN KUNTARI Peserta berlatih membidik sasaran dalam Jemparingan Ndalu.
MERAPI-AMIN KUNTARI
Peserta berlatih membidik sasaran dalam Jemparingan Ndalu.

MEMBIDIK sasaran anak panah dengan bantuan sinar matahari memang sudah biasa. Namun menjadi luar biasa jika olahraga panahan tradisional gaya Mataraman atau dikenal Jemparingan itu dilakukan di malam hari. Kendati Jemparingan di malam hari lebih sulit dibandingkan di siang hari, tapi ternyata ada manfaat tambahan yang bisa diperoleh, yakni lebih melatih kesabaran dan mengendalikan emosi.

Alasan inilah yang kemudian menjadi pertimbangan banyak orang dalam bermeditasi melalui olahraga Jemparingan Ndalu. Sesuai namanya, kegiatan melepas anak panah dari busurnya untuk membidik sasaran itu dilakukan peserta pada malam hari. Olahraga ini pun dipercaya memiliki banyak manfaat, salah satunya mengolah rasa agar pembawaan menjadi lebih tenang.
Di Kulonprogo, Lapangan Jati Kusumo di Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih dipilih menjadi lokasi latihan Jemparingan Ndalu pada Sabtu malam pekan lalu. Nyala belasan lampu di sana membuat anak panah yang melesat menuju sasaran terlihat jelas. Di sisi lain, para pemegang busur berjajar rapi mengenakan pakaian adat Jawa dan duduk bersila di atas tikar.

Jemparingan Ndalu yang merupakan latihan bersama olahraga panahan tradisional prajurit Mataram ini diselenggarakan Paguyuban Jemparingan Langen Progo dari Kulonprogo. Belasan peserta dari Kulonprogo maupun daerah lain seperti Sleman, Bantul, Klaten, Solo dan Wonogiri nampak antusias mengikuti kegiatan ini. “Berlatih jemparingan pada malam hari merupakan salah satu cara untuk mengontrol emosi. Sebab pada malam hari, yang diandalkan untuk membidik sasaran bukan hanya penglihatan, namun juga rasa,” kata Joko Mursito, Penasihat Paguyuban Jemparingan Langen Progo, di sela latihan.

Anak panah yang lepas dari gandewa ini harus tepat mengenai bandhul atau sasaran dalam olahraga jemparingan. Dalam Jemparingan Ndalu, diperlukan olah rasa sebelum melepaskan anak panah dari busurnya.“Karena itulah, Jemparingan Ndalu kemudian dijadikan cara untuk bermeditasi,” imbuhnya.

Tak hanya soal rasa, Jemparingan Ndalu juga kerap berbicara soal kepuasan. Mendengar suara lonceng berbunyi sebagai tanda anak panah tepat mengenai bandhul pada malam hari, bagi peserta lebih memuaskan ketimbang pada siang hari. Keseruan dalam kompetisi ini pun masih ditambah hadiah berupa seekor angsa bagi pemenang yang paling banyak mengenai sasaran atau biasa disebut ‘titis satu’. “Jemparingan Ndalu sudah dua kali kami gelar. Kali ini, untuk memeriahkan perayaan Imlek mengingat sebagian anggotanya adalah warga Tionghoa,” sambung Joko.

Tak dipungkiri, kegiatan Jemparingan Ndalu cukup memikat banyak orang, baik pemain pemula maupun yang sudah berpengalaman. Salah satunya, abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Mas Wedana Mangku Prayitno (62). Ia mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Paguyuban Jemparingan Langen Progo karena merupakan cara untuk melestarikan budaya.
“Sejak awal 2017 hingga sekarang, perkembangan jemparingan begitu pesat, termasuk di Kulonprogo. Di DIY, bahkan sudah cukup banyak paguyuban jemparingan yang terbentuk,” tambah Mbah Dono. (Unt)

Read previous post:
Bupati Sukoharjo: Penutupan Toko Modern Berlanjut

SUKOHARJO (MERAPI) - Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya menegaskan penutupan toko modern secara bertahap tetap terus dilakukan untuk melindungi toko tradisional

Close