Kekeringan Meluas di Pati

Warga di desa terdampak kekeringan di Pati, berebut air bersih. (MERAPI-Alwi Alaydrus)
Warga di desa terdampak kekeringan di Pati, berebut air bersih. (MERAPI-Alwi Alaydrus)

PATI ( MERAPI ) – Kekeringan di wilayag kabupaten Pati semakin meluas. Warga di kecamatan Jaken, Pucakwangi mulai ada yang berburu air bersih sampai keluar desa. Bahkan air sumur di kecamatan Trangkil juga mulai surut. Sedang kondisi waduk Gunungrowo Gembong harus menyetop suplai air untuk irigasi. Karena persediaan air waduk, diperkirakan hanya tinggal 800 ribu liter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati mencatat, ada 88 desa yang mengalami dampak kekeringan, yang tersebar di enam kecamatan. Yakni di kecamatan Pucakwangi, Jaken, Jakenan, Gabus, Winong, dan Tambakromo. Luasan kekeringan diperkirakan akan bertambah, karena hingga menjelang akhir Agustus ini belum ada tanda-tanda turun hujan.

Kondisi desa yang sangat membutuhkan bantuan air bersih, meliputi Sidomukti kecamatan Jaken, Boto kecamatan Winong, dan Trikoyo kecamatan Pucakwangi.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan warga yang berada Pati bagian selatan sangat membutuhkan air bersih. Hal tersebut sebagai dampak terjadinya kekeringan. Sehingga memaksa pemkab Pati mulai melakukan pengedropan air bersih ke desa terdampak.

Selain itu, kalangan swasta juga mengirim bantuan air bersih. Seperti yang dilakukan alumni SMU Negeri membagikan bantuan air bersih ke wilayah Jaken, Jakenan dan ke desa Pelemgede Kecamatan Pucakwangi. Serta akan menyusul ke wilayah kecamatan Winong.

“Warga sangat membutuhkan bantuan air bersih” tutur Karno, penduduk desa Ronggo Kecamatan Jaken, Kamis (30/8).

Sementara itu, pengiriman air untuk irigasi dari waduk Gunungrowo kecamatan Gembong mulai dihentikan. Hal tersebut sebagai akibat menyusutnya air waduk.

Menurut operator Unit Pengelola Gunungrowo, Dian Saputra waduk yang berlokasi di desa Sitiluhur sebenarnya berkapasitas (top elevasi) 5,1 juta meter kubik. Namun sejak terjadi kekeringan menyebabkan volume air waduk tinggal menyisakan 800 ribu meter kubik.

“Kendati masih jauh dari batas tampungan mati (dead storage) 350 ribu meter kubik, namun pengiriman air untuk irigasi sawah dihentikan. Ini untuk mengamankan waduk supaya dinding dan lantai waduk tetap lembab, sehingga tidak rusak” ucap Dian Saputra.

Sebelum dilakukan penghentian pengiriman air dari waduk Gunungrowo, tambahnya lagi, lebih dulu dimusyawarahkan dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Pati.

Adanya penurunan ketiinggian air, justru mengundang perhatian wisatawan dari luar daerah untuk menikmati keindahan kawasan waduk Gunungrowo. Sedang warga sekitar waduk masih menjaring ikan, dengan menggunakan rakit bambu. (Cuk)

 

Read previous post:
Belabeliku.com Dorong UMKM Melek Teknologi

WATES (MERAPI) - Pemkab Kulonprogo telah meluncurkan pasar dalam jaringan internet atau marketplace belabeliku.com sebagai wadah penjualan produk UMKM setempat

Close