DICAMPUR GARAM IMPOR – Petani Pilih Timbun Garam Grosok

Petani garam Desa Genengmulyo, Kecamatan Juwana sedang mengolah tambak garamnya. (MERAPI-Alwi Alaydrus)
Petani garam Desa Genengmulyo, Kecamatan Juwana sedang mengolah tambak garamnya. (MERAPI-Alwi Alaydrus)

PATI(MERAPI) – Petani garam mentah (grosok) di Pati, memilih untuk menimbun hasil produksinya. Hal tersebut disebabkan, harga jual garam grosok terus melemah atau turun. Di pasaran umum, harga garam grosok saat ini hanya Rp 850 per kilogram.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan, petani di wilayah kecamatan Wedarijaksa, Trangkil, Juwana dan Batangan sengaja menggudangkan sementara garamnya, karena menunggu naiknya harga.

Bahkan sejumlah petani garam di wilayah kecamatan Trangkil malah sudah banyak yang beralih ke usaha ikan tambak. Hal ini dikarenakan, usaha ikan tidak terlalu banyak mengeluarkan beaya, dan perawatannya juga lebih mudah.

Rendahnya harga garam tersebut membuat kalangan petani menjadi prihatin. Sebab, untuk memproduksi garam grosok yang berkualitas, mereka membutuhkan modal yang tidak sedikit.

“Sebentar lagi, kemungkinan sudah turun hujan. Maka harga garam akan naik” kata Eko Sulistyo, (28), seorang petani garam desa Genengmulyo, Kecamatan Juwana, Rabu (29/8).

“Saat ini, garam cuma laku Rp 850/Kg. Sehingga masih memberatkan petani” tambahnya.

Eko Sulistyo berharap agar pemerintah bisa menstabilkan harga garam, sehingga para petani tidak rugi ketika musim panen.

Sementara itu, sejumlah produsen garam di Pati, ternyata ada yang menggunakan bahan baku impor. Hal ini disebabkan bibit garam lokal lebih mahal, dibandingkan yang dari luar negeri. Selain itu, produsen garam juga untuk mengejar target produksi garam konsumsi, sebanyak 50 ton per bulannya.

Sejumlah produsen garam di kecamatan Batangan, mengaku terpaksa mendatangkan bahan baku garam impor, seperti dari Australia dan India.

“Bibit garam impor itu lalu dicampur dengan lokal, sehingga menjadi garam konsumsi. Tapi rasanya pahit sedikit” tutur seorang pengusaha desa Ketitang Wetan kecamatan Batangan, Sri Lestari.

Harga bahan garam impor Rp. 2.250, dan garam lokal Rp. 3 ribu per kilogram. Setelah dilakukan prosesing di pabrik, menjadi garam beryodium, dengan harga Rp.11 ribu/Kg. (Cuk)

 

Read previous post:
Produktivitas Tembakau di Temanggung dan Magelang Berkurang 50 Persen

TEMANGGUNG (MERAPI) - Pada musim panen tembakau 2018, hasil panen tembakau di lereng Gunung Sumbing Kabupaten Temanggung turun 40 hingga

Close