“Taptu” Awali Kemeriahan HUT RI

MERAPI-Alwi Alaydrus Forkompimda menyulut obor Taptu di Pati
MERAPI-Alwi Alaydrus
Forkompimda menyulut obor Taptu di Pati

PATI (MERAPI) – Kegiatan Taptu yang diselenggarakan Kodim 0718, pada Kamis (16/8) malam, mengawali aneka kemeriahan perayaan HUT RI Ke-73 di Pati. Karena pada “pasukan obor” tersebut, sempat dihadiri langsung salasatu pelaku perang untuk mempertahankan kemerdekaan RI, yakni, Letkol Pol (Purn) H Soekarno Lilik.

Puncak peringatan HUT RI di Pati, ditandai upacara penaikan bendera merah putih di Alun-alun Simpang Lima, Jumat (17/8). Bupati H Haryanto SH MM MSi menjadi Irup, dan Kapten Kav Bambang FL Sugiatmoko (Danramil Margoyoso) sebagai Komandan Upacara, serta Pasi Persdim 0718 Kapten CBA Hendro Warman sebagai perwira upacara.

Upacara penaikan bendera merah putih, juga berlangsung di semua kecamatan di kabupaten Pati. Sebanyak 220 napi penghuni Lapas Pati menerima remisi. Selain itu, sekitar 400 pekerja seks komersial (PSK) Lorong Indah (LI), juga menggelar upacara bendera di halaman pasar Margorejo. Pada tradisi tahunan ini, sempat dihadiri Komandan Kodim 0718 Pati, Letkol Arm Arief Darmawan SSOs, dan pembina GusDurian Pati Edy Kubota bersama KH DR Hepy Irianto.

PSK Margorejo gelar upacara 17an
PSK Margorejo gelar upacara 17an

Sedang kelompok warga Nata Praja Bangun Desa, pada Jumat sore membagikan 3000 nasi bungkus kepada tukang becak dan warga miskin yang ada di kota Pati. “Saat merayakan kemerdekaan, jangan sampai ada warga kita yang kelaparan” ucap koordinator kegiatan, Alman Eko Darmo.

Kelompok Nata Praja Bangun Desa membagikan nadi bungkus untuk warga tidak mampu
Kelompok Nata Praja Bangun Desa membagikan nadi bungkus untuk warga tidak mampu

Pertempuran di Pati

Sementara itu, Letkol Pol (Purn) H Soekarno Lilik yang ditemui wartawan mengungkapkan, terjadinya perang kemerdekaan di Pati, tidak bisa dilepaskan dari Pertempuran Lima Hari di Semarang, 15 – 19 Oktober 1945. “Waktu itu, tidak sedikit pelajar dari Pati, Demak, Semarang dan Kendal harus meninggalkan bangku sekolah, ikut pertempuran di Semarang, guna menghadapi penjajah Belanda yang membonceng tentara Inggris” tuturnya.

“Pasukan Belanda juga memasuki kota Pati. Maka hampir setiap hari terjadi pertempuran. Kita posisi kalah persenjataan, sehingga harus mundur dengan bergerilya di Pucakwangi, Todanan, Kayen, Patiayam. Pimpinan perang gerilya waktu pak Moenadi, yang waktu masih berpangkat kapten” tutur H Soekarno Lilik.

Menurutnya, salasatu anak buahnya, Ali Mahmudi, tewas di Trowelo, tapi gerilya para pejuang terus berlanjut. Sampai Tahun 1948 pecah pembrontakan PKI di Madiun yang berhasil ditumpas Tentara Siliwangi, tapi pertempuran di Pati melawan Belanda terus terjadi di mana-mana. Termasuk pertempuran di Widorokandang, dan semua itu baru berakhir pada 1949, yang tentu menelan banyak korban jiwa” ujarnya. (Cuk)

 

 

 

Read previous post:
BERTEPATAN HUT KEMERDEKAAN RI -286 Napi di Sleman Dapat Remisi

  MLATI (MERAPI)- Bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, ratusan narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan,

Close