Lagi, Dua Warga Dinyatakan Positif Antraks

MERAPI-ANTARA  Kelik Yuniantoro.
MERAPI-ANTARA
Kelik Yuniantoro.

WONOSARI (MERAPI) – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menyatakan, ada dua warga di Kecamatan Semanu dan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, dinyatakan positif antraks, sehingga menambah daftar jumlah warga terkena antraks menjadi 30 orang.

Kepala Diskominfo Gunungkidul Kelik Yuniantoro, Selasa (28/1), mengatakan Dinas Kesehatan melaporkan dalam rapat koordinasi bahwa total jumlah Gunungkidul yang positif antraks sebanyak 30 orang. “Berdasarkan laporan Dinkes, dua warga positif antraks merupakan warga Kecamatan Semanu dan Saptosari yang berprofesi sebagai petani dan jagal,” kata Kelik dikutip Antara.

Ia mengatakan berdasarkan analisa sementara dari Dinkes, keduanya terpapar penyakit yang berasal dari bakteri Bacillus anthracis, saat mengelola pupuk kandang. “Saat ini, Dinkes dan OPD terkait sedang mencari riwayatnya bisa kena (antraks). Untuk yang positif Semin kemarin karena banyak berinteraksi dengan sapi, profesinya sebagai tukang jagal,” katanya.

Namun demikian, Kelik memastikan bahwa 30 warga yang dinyatakan positif antraks, kondisi kesehatanya sudah membaik. Ia juga mengimbau warga selalu perilaku hidup sehat. “Kalau di kandang seharusnya memakai sepatu bot, kaos tangan dan harus lebih berhati-hati,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul dr Dewi Irawati, M.Kes mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan 2 x 60 hari di lokasi pertama, yakni Dusun Ngrejek Timur sejak 28 Desember 2019 lalu. “Di kecamatan karena baru, mulai awal lagi, dan pemantauan lingkungan 2 X 60 hari,” katanya.

Sementara itu Komisi D DPRD Kabupaten Gunungkidul merekomendasikan pemerintah setempat menutup sementara pasar hewan untuk mengantisipasi keluar masuknya hewan ternak dari daerah lain yang membawa penyakit antraks. Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul Supriyadi mengatakan, pihaknya merekomendasikan agar pemkab berani untuk menutup sementara pasar hewan.

“Hal ini untuk mengantisiapsi keluar masuknya hewan ternak dari dan keluar Gunung Kidul. Seperti penanganan corona di Tiongkok juga melakukan isolasi. Kita isolasi seperti itu, sapi di Gunung Kidul sementara tidak boleh keluar dan ada sapi yang masuk karena indikasinya antraks berasal dari luar Gunung Kidul,” kata Supriyadi.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan pemkab dalam penanganan antraks. Namun perlu ditingkatkan lebih lagi, seperti keberanian menutup pasar hewan. “Kami minta pemkab lebih tegas dalam penanganan antraks, jangan sampai berdampak pada keterpurukan ekonomi warga dan sektor pariwisata,” katanya. (*)

Read previous post:
ilustrasi
Bukan Kenakalan Biasa

MEMBINCANGKAN soal kenakalan remaja di Yogya seolah tak ada habisnya. Ada saja oknum remaja, khususnya pelajar, yang berulah neko-neko, mulai

Close