Di Gunungkidul Ada 9 Kasus Leptospirosis, 1 Meninggal

WONOSARI (MERAPI) – Memasuki musim penghujan, masyarakat diminta mewaspadai terjangkit sejumlah penyakit terutama yang ditularkan melalui hewan, salah satunya penyebaran virus Leptospirosis yang ditularkan tikus. Leptosirosis cukup berbahaya lantaran bisa mengakibatkan kematian. Tahun ini ada 9 kasus dan satu orang korban di antaranya meninggal dunia.

“Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai sebanyak 17 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr Dewi Irawaty, Selasa (10/12).

Jumlah warga yang terserang penyakit leptospirosis ini dari tahun ke tahun berhasil diatasi, setidaknya jumlahnya berhasil ditekan. Jika merunut data pada tahun 2017 jumlah kasus mencapai 64 kasus, kemudian tahun 2018 turun menjadi 17 kasus dan di tahun ini hanya tercatat sebanyak 9 kasus. Daerah persebaran virus tersebut tidak hanya terjadi di daerah persawahan yang selama ini diketahui sebagai habitat tikus. Bahkan kawasan wisata pantai virus tersebut juga telah terdeteksi dari Balibangkes Banjarnegara.

“Hasil penelitian, tikus-tikus di pantai juga kedapatan bakteri atau kuman yang berbahaya bagi masyarakat,” imbuhnya.

Terpisah Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka menyatakan, Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang dibawa oleh hewan-hewan tertentu. Leptospira adalah organisme yang hidup di perairan air tawar, tanah basah, lumpur, dan tumbuh-tumbuhan.Bakteri ini dapat dapat menyebar melalui banjir. Hewan pembawa bakteri leptospira umumnya tidak memiliki tanda-tanda sedang mengidap leptospirosis karena bakteri ini dapat keluar melalui urine mereka.“Kasus kemarin dimungkinkan ditularkan melalui kencing tikus yang menyebar melalui air yang tergenang di sawah kemudian berinteraksi dengan korban,” ucapnya.

Pada umumnya virus itu tidak tahan pada kondisi panas matahari karena itu disarankan petani berangkat ke sawah pada siang hari saat sudah ada sinar matahari. Sedangkan berbagai kasus yang ada, penularan virus tersebut lantaran perilaku manusia yang kurang menjaga kebersihan. Selain itu, banyak dari mereka (korban) yang acuh terhadap kesehatan. Misalnya mereka yang mempunyai luka kecil di kaki atau tangan hal itu sangat berisiko tertular.Untuk mengantisipasi penyakit tersebut Dinkes Gunungkidul berupaya memaksimalkan fungsi Puskesmas untuk melakukan deteksi dini. “Pencegahan untuk nelayan atau petani harus menggunakan alat perlindungan diri (APD),” jelasnya. (Pur)

Read previous post:
Warga dan BPBD evakuasi pohon tumbang yang merintangi jalan di Desa Rejosari.(MERAPI-Dok BPBD Gunungkidul)
HUJAN ANGIN TERJANG SEMIN- 6 Rumah Rusak, Puluhan Pohon Tumbang

WONOSARI (MERAPI)–Hujan deras disertai angin kencang menerjang Kecamatan Semin, Gunungkidul menyebabkan puluhan pohon tumbang dan lima pohon di antaranya menutup

Close