PEMKAB GUNUNGKIDUL KELUARKAN KEBIJAKAN: Lokalisir Ternak di Wilayah Endemis Antraks

MERAPI-ANTARA/SUTARMI Dinas Pertanian DIY dan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul meninjau lokasi kasus sapi mati di Desa Bajiharjo.
MERAPI-ANTARA/SUTARMI
Dinas Pertanian DIY dan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul meninjau lokasi kasus sapi mati di Desa Bajiharjo.

WONOSARI (MERAPI) – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, melalui Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) melokalisir dan melarang hewan ternak yang ada di Kawasan endemik Dusun Grogol IV, Desa Bejiharjo, Karangmojo keluar dari kawasan. Kebijakan ini dilakukan dengan harapan agar penyakit antraks tidak menular ke wilayah lainnya.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pemangku kebijakan di tingkat bawah dari RT/RW hingga Kepala Desa (Kades) Bejiharjo terkait dengan penanganan antraks di wilayah tersebut,” kata Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul, Ir Bambang Wisnu Broto, Jumat (28/6).

Koordinasi ini untuk mencegah hewan ternak yang berasal dari wilayah tersebut tidak keluar masuk sebelum dilakukan pemeriksaan dan vaksin. Sampai saat ini wilayah yang terpapar masih di sekitar dusun tersebut. Secara resmi kebijakan dilakukan lokalisasi agar penyakit yang mematikan hewan ternak tidak meluas hingga luar daerah. Karena itu selama kebijakan lokalisasi dilakukan hewan ternak yang ada di wilayah endemik menjadi target untuk pemberian vaksin selama dua minggu.

Adapun pemberian vaksin terbagi dalam zona merah dan kuning. Adapun untuk zona merah yakni Dusun Grogol 1,II,III,IV,V di Desa Bejiharjo, Karangmojo, hingga wilayah Wonosari yang berbatasan Grogol IV, yakni Dusun Tawarsari di Desa Wonosari dan Dusun Kajar 3 di Desa Karangtengah. Di zona merah ada 389 ekor sapi, 928 kambing, 10 domba.

Untuk zona kuning, yakni di Padukuhan Grogol II, Gunungsari, Banyubening I, Banyubening II, Kulwo Desa Bejiharjo. Kedung I, Kedung II, Desa Karang Tengah, Budegan I, Budegan II, Desa Piyamam dan Selang II, Desa Selang. Total ternak sapi ada 839, ternak kambing 1.852 dan 30 ekor domba. vaksin untuk pencegahan antraks akan diberikan secara berkala selama sepuluh tahun. Setiap tahunnya, hewan ternak ini akan diberikan vaksin sebanyak dua kali. “Harapannya saat hari raya besar (Kurban) nanti vaksin sudah selesai dan tidak ada lagi ditemukan kasus antraks,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui bahwa jumlah ternak sapi milik warga kembali ditemukan mati Kawasan Dusun Grogol IV merupakan wilayah yang pertama kali ditemukan penyakit antraks. Sapi yang mati tersebut adalah milik Jumiyo, yang sebelumnya juga memiliki sapi mati mendadak dan positif antraks. Dengan bertambahnya jumlah sapi mati terserang antraks di Desa Bejiharjo, Karangmojo ini menyebabkan jumlah sapi yang mati meningkata menjadi 4 ekor. (Pur)

Read previous post:
Lima Desa di Karanganyar Terima LPTP Award

KARANGANYAR (MERAPI) - Penggerak usaha asal lima desa di Jawa Tengah memperoleh penghargaan Yayasan Pengembangan Teknologi Perdesaan (LPTP). Mereka berhasil

Close