AWAL JANUARI DAN PUNCAK PENGHUJAN – Serangan DBD di Gunungkidul Meningkat

Ilustrasi DBD

WONOSARI (MERAPI) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul mengisyaratkan serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai terjadi di sejumlah kecamatan dan menunjukkan terjadinya peningkatan. Terhitung sejak Januari 2019 ini, tercatat sudah ada puluhan laporan kasus. Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengatakan, jumlah kasus DBD pada awal tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2018 lalu. “Peningkatan terjadi hampir dua kali lipat pada awal tahun ini mencapai 37 kasus,” katanya Selasa (5/2).

Sementara kasus DBD pada awal tahun lalu yakni pada bulan Januari hanya terjadi 19 kasus. Terkait dengan peningkatan tersebut dia mengimbau masyarakat menjaga kesehatan di sekitar lingkungan rumah. Hal ini cukup penting dilakukan mengingat saat ini di Gunungkidul sendiri, meski tak terlalu parah, namun sudah menunjukkan trend peningkatan . Belajar dari kasus DBD yang terjadi di wilayah lain, pihak Dinkes mulai melakukan antisipasi pencegahan. Salah satunya adalah mengupayakan Juru Pemantau Jentik ( Jumantik) setiap rumah satu orang.

“Kita juga mendorong masyarakat untuk menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti lavender, dan serai, karena tumbuhan tersebut tidak disukai nyamuk,” imbuh.

Melalui Puskesmas di masing-masing kecamatan dengan membentuk jumantik tiap satu rumah satu petugas diharapkan penyebaran penyakit DBD bisa dicegah. Jika jumlah jentik-jentik sudah melebihi ambang batas maka akan dilakukan fogging (pengasapan). Fogging tidak bisa dilakukan asal-asalan, harus melalui kajian terlebih dahulu. Disinggung mengenai peningkatan jumlah kasus DBD, Priyanto Madya Satmaka menyatakan ada beberapa faktor pemicu. Salah satunya ialah curah hujan, sebaran kasus di tempat lain (luar wilayah) yang meningkat berpengaruh terhadap jumlah penderita DBD di Gunungkidul.“Selain faktor itu juga perilaku masyarakat dalam melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) masih kurang.

“Gerakan PSN oleh masyarakat merupakan yang terpenting, sehingga diharapkan tidak ada jentik nyamuk yang berkembang biak,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan, demi pencegahan penyakit mematikan ini, masyarakat diimbau untuk menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas, menutup penampungan air, dan memantau lingkungan sekitar mereka. Lokasi-lokasi yang sekiranya bisa dijadikan nyamuk berkembang biak wajib diwaspadai dan dilakukan penanganan khusus.

“Kepedululian masyarakat yang meningkat dan saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan harus dilakukan,” terangnya. (Pur)

Read previous post:
Kirab Budaya Puncak Imlek Klenteng Hok Tik Bio

PATI (MERAPI) - Kiran budaya berupa arak-arakan kesenian seperti reog Ponorogo, barongsay dua naga, dan drumband Salafiyah keliling kota Pati,

Close