DANA MENIPIS KEKERINGAN MELUAS – Anggaran Droping Air Hanya Sampai Oktober

Warga di desa terdampak kekeringan di Pati, berebut air bersih. (MERAPI-Alwi Alaydrus)
Ilustrasi

WONOSARI (MERAPI) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, telah merealisasi droping air selama masa kekeringan tahun ini dan terhitung hingga akhir September 2018 telah menghabiskan dana Rp 500 juta dari total anggaran yang tersedia sebanyak Rp 638 juta. Jumlah anggaran yang dikeluarkan tersebut terakumulasi termasuk untuk beaya perawatan dan pergantian onderdil kendaraan yang digunakan untuk operasional. “Sisa dana yang ada ini diharapkan cukup hingga bulan oktober,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Drs Edy Basuki MSi, Minggu (30/9).

Diakuinya sejak awal September lalu jumlah wilayah kekeringan di Kabupaten Gunungkidul terus meluas. Tidak hanya di kawasan selatan, tapi juga di utara meliputi Kecamatan Gedangsari dan Nglipar. Dengan meluasnya wilayah kekeringan ini otomatis permintaan droping air mengalami peningkatan dan dengan menipisnya anggaran untuk draping air pihaknya akan terus berupaya agar kebutuhan air untuk masyarakat di kawasan kekeringan tetap bisa tercukupi. Jika dana tersebut tidak cukup pihaknya akan memberlakukan bencana kekeringan. Setiap hari menyediakan sebanyak 24 tengki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter untuk masyarakat terdampak kekeringan.“Nanti akan kami koordinasikan dengan pihak terkait,” imbuhnya.

Sementara Bupati Gunungkidul Hj Badingah S Sos mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan menipisnya anggaran, pihaknya terus berkomitmen untuk membantu mencukupi kebutuhan air bersih kepada warga terdampak kekeringan.Karena itu Bupati Gunungkidul mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir dengan minimnya anggaran.

Pihaknya akan terus berupaya untuk tetap bisa membantu masyarakat sihingga kebutuhan air bersih akan tercukupi. “Kita akan upayakan masyarakat yang mengalami kesulitan air tetap bisa tercukupi,” terangnya.

Masyarakat terdampak kekeringan selain mengandalkan air dari bantuan pemerintah, juga banyak warga yang terpaksa dengan cara membeli dari swasta. Harga air termahal di Desa Mertelu Kecamatan Gedangsari yang setiap tangki berkapasitas 4.000-5.000 liter harganya bisa mencapai 250 ribu-Rp 275 ribu pertangki tergantung dari dekat maupun jauhnya lokasi pengiriman. (Pur)

Read previous post:
RINTISAN DESA BUDAYA DI TLOGOADI – Bendung Dampak Negatif Teknologi

MLATI (MERAPI) - Hampir setiap dusun di wilayah Desa Tlogoadi memiliki potensi kesenian adiluhung peninggalan nenek moyang. Untuk itu pemerintah

Close