KEKERINGAN GUNUNGKIDUL MELUAS – Droping Air Sehari 36 Tangki

Warga di desa terdampak kekeringan di Pati, berebut air bersih. (MERAPI-Alwi Alaydrus)
Ilustrasi

WONOSARI (MERAPI) – Kekeringan di Kabupaten Gunungkidul meluas tidak hanya di kawasan selatan tapi juga di bagian utara, di Desa Mertelu, Gedangsari yang mulai kesulitan air bersih. Data terbaru yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kekeringan melanda 117.216 jiwa meliputi 12 Kecamatan, termasuk Saptosari. “Meluasnya wilayah kekeringan menyebabkan volume droping air meningkat dari 24 tangki per hari menjadi 36 tangki per hari,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Drs Edy Basuki MSi, Rabu (12/9).

Terkait dengan meluasnya kawasan kekeringan, pemerintah saat ini terus meng-update wilayah kekeringan dan meminta desa-desa yang dilanda kekeringan untuk melaporkannya. Sedang dari 12 kecamatan kekeringan terdapat dua kecamatan yang menyusul kekurangan air bersih, yakni di Desa Mertelu Kecamatan Gedangsari (kawasan utara) dan Kecamatan Saptosari (wilayah selatan).

Untuk memperlancar droping air ini BPBD juga melakukan kroscek terhadap beberapa sumber air yang bisa dijadikan andalan untuk pengambilan air bersih. Baik itu untuk menyasar masyarakat di kawasan utara Kabupaten Gunungkidul maupun kawasan utara khususnya di Desa Mertelu Kecamatan Gedangsari. “Terdapat beberapa sumber air andalan untuk mensuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat tersebut,” imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Mertelu, Tugiman mengatakan, kekeringan di wilayahnya sudah berlangsung hampir lima bulan. Dampak kemarau yang berlangsung cukup lama ini membuat warganya sangat menderita, lantaran sudah tidak ada sumber air wilayah Mertelu. Sumur-sumur telah mengering, dan di banyak titik bahkan juga tidak terlayani oleh aliran air dari PDAM.“Kekeringan yang terjadi ini berdampak langsung kepada 150 KK (Kepala Keluarga) atau lebih dari 450 jiwa kekurangan air bersih,” ucapnya.

Jika dengan cara membeli, harga air bersih untuk satu tangki saat ini di Desa Mertelu mencapai Rp 350 ribu. Jauh di atas harga di lokasi biasa yang hanya berkisar antara Rp150.000 hingga Rp 200.000 per tangkinya. Harga tersebut memang jauh lebih tinggi dengan harga yang ada di wilayah selatan. Namun demikian, masyarakat menyadari sulitnya medan menjadikan harga air lebih mahal.. Saat ini menurut Tugiman persoalan kekeringan merupakan masalah rutin yang hampir terjadi setiap tahun, khususnya pasca terjadi gempa tektonik 2006 silam. “Kita berharap pemerintah bisa memfasilitasi dan kekurangan air bisa teratasi,” terangnya. (Pur)

Read previous post:
DIBEKUK MARTAPURA FC 3-0 – PSS Kembali Terjungkal di Demang Lehman

  MARTAPURA (MERAPI) - PSS Sleman menuai kekalahan ke-5 musim ini setelah kalah tiga gol tanpa balas dari Martapura FC

Close