2.230 KK Tinggal di Daerah Rawan Longsor

MERAPI-YUSRON MUSTAQIM
Seorang relawan memotret tebing di atasnya terdapat rumah yang berpotensi longsor

BANTUL (MERAPI) – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Drs Dwi Daryanto MSi menyatakan, sebanyak 2.230 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Bantul bertempat tinggal di zona merah yang rawan akan bencana tanah longsor.
“Kabupaten Bantul termasuk daerah rawan longsor di DIY setelah Kulonprogo dan Gunungkidul. Kebanyakan warga bertempat tinggal di daerah perbukitan,” ujar Dwi Daryanto kepada wartawan, Senin (25/1).

Disebutkan, ribuan KK yang bertempat tinggal di kawasan rawan longsor tersebut masuk dalam zona merah yang tersebar di 21 kalurahan di 8 kapanewon terdiri dari Dlingo, Kretek, Imogiri, Pundong, Piyungan, Kasihan, Pleret dan Pajangan.
Meski banyak warga yang tinggal di kawasan zona merah tetapi pihaknya tidak bisa merelokasi semua warga. Karena selain keterbatasan anggaran juga lahan yang disediakan untuk melakukan relokasi sangat minim.

Karena hingga kini Pemkab Bantul melalui BPBD Bantul hanya menyiapkan anggaran sebesar Rp 25 juta sampai Rp 30 juta untuk membantu warga berupa batuan dalam bentuk bahan bangunan.
Apalagi sampai saat ini pihaknya mengaku kekurangan alat deteksi tanah longsor untuk mencegah terjadinya kerugian bila musibah itu terjadi. Hingga kini BPBD Bantul memiliki 10 alat deteksi tanah longsor. Padahal untuk kebutuhan di seluruh wilayah Kabupaten Bantul minimal harus memiliki 100 alat deteksi tanah longsor.

Untuk itu sebagai antisipasi terjadinya bencana dimusim penghujan pihaknya telah nmembentuk posko banjir dan longsor. Di posko tersebut para relawan akan siaga 24 jam disetiap wilayah kalurahan yang rawan longsor untuk memantau dan melaporkan setiap peristiwa bencana yang terjadi.
Sementara itu BPBD Kabupaten Bantul menyiapkan lahan milik pemerintah desa untuk relokasi enam rumah warga di Dusun Glingseng, Desa Munthuk, Dlingo yang rawan terdampak tanah longsor.

“Kita sudah cek lokasinya relatif lumayan aman daripada yang sekarang ini, kalau nanti terpaksa harus menjadi satu dari enam KK (Kepala Keluarga) itu, dari Pemerintah Desa Munthuk sudah menyiapkan di Desa Seropan 2,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Senin (25/1).

Dia mengatakan enam rumah warga itu perlu direlokasi karena lokasinya tidak layak untuk pemukiman, menyusul keadaan membahayakan tanah longsor usai hujan lebat beberapa waktu lalu yang mengancam rumah tersebut.
Bahkan, dua rumah di antaranya pada bagian belakang telah tertimpa tanah longsor pada Selasa (19/1), kemudian satu rumah lagi yang terancam terdampak longsor apabila hujan deras mengguyur dalam waktu lama, karena berjarak sekitar tiga meter dari titik longsor. (Usa)

Read previous post:
Sukseskan Program Gemar Makan Ikan

EMPAT kolam dengan ukuran cukup luas sudah berisi ribuan benih ikan nila merah setiap kolamnya. Bahkan masih akan ada kolam

Close