IMBAUAN DINKES SOAL WASPADA DBD: Masyarakat Tidak Lakukan Fogging Mandiri

Petugas saat sedang melakukan fogging untuk memberantas nyamuk karena tingginya penderita DBD
Ilustrasi: petugas melakukan fogging.

BANTUL (MERAPI) – Berlangsungnya musim hujan di Bantul sejak akhir tahun 2019 lalu menjadi kewaspadaan tersendiri terhadap potensi merebaknya demam berdarah dengue (DBD). Selama bulan Januari 2020 tercatat sebanyak 50 orang terjangkit DBD di Bantul. Meskibegitu Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mengimbau masyarakat tidak melakukan pengasapan (fogging) secara mandiri. Lantaran fogging dapat memicu nyamuk menjadi lebih kebal atau resisten.

Dihubungi Senin (3/2) sore, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Tri Wahyu Joko Santoso mengakui jika potensi DBD akan meningkat pada musim hujan. Hal ini dilihat dari kebiasaan pada tahun sebelumnya. Sejauh ini data yang masuk ke Dinkes Bantul selama tahun 2020 sebanyak 50 orang terjangkit penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti tersebut. Para penderita ini tersebar di seluruh wilayah kecuali Kecamatan Dlingo. “Sejauh ini belum ada korbn jiwa, kita berharap tidak ada ya,” sebut pria yang akrab dipanggil Oki tersebut.

Guna mengantisipasi merebaknya penyakit ini Dinkes Bantul terus melakukan upaya preventif dengan beberapa program. Salah satunya adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Program ini digerakkan oleh kader kesehatan di setiap kecamatan dengan menggandeng pemerintah desa, dasawisma, dan organisasi masyarakat setempat. PSN diakuinya sangat efektif untuk memantau kondisi riil di lapangan terkait perkembangan jentik-jentik nyamuk. “Kalau ditemukan garus segera dilakukan tindakan dengan menguras, menutup, dan mengubur barang-barang sarang nyamuk berkembangbiak,” ungkapnya.

Oki menambahkan masyarakat juga perlu melakukan ikanisasi. Tampungan air, atau kolam yang tidak bisa ditutup bisa diberi ikan agar tidak digunakan sebagai tempat berkembangbiak nyamuk. Selain itu Dinkes juga menyiapkan abate. Abate itu dimasukkan ke tampungan air supaya tidak digunakan nyamuk sebagai tempat berkembangbiak. Sejauh ini dia menyiapkan minimal 2 kg abate di 27 puskesmas. Masyarakat bisa mendapatkan abate itu secara gratis. “Kalau nanti habis bisa minta lagi, itu langsung dari pusat Dinkes Bantul tidak mengadakan sendiri,” sebutnya.

Terkait fogging, Oki menyebut harus ada mekanisme tersendiri agar bisa dilaksanakan. Fogging tidak dapat dilakukan di setiap tempat. Setelah menerima laporan DBD Dinkes harus mendapatkan surat deteksi dini rumah sakit. Kemudian puskesmas harus melakukan tes epidemiologi. Tes ini untuk memastikan apakah pasien tersebut terjangkit DBD dari nyamuk setempat atau tertular dari luar. Puskesmas akan melihat angka jentik dengan survey. Normalnya dari 10 rumah tidak boleh lebih dari 1 rumah yang terdapat jentik nyamuk. “Fogging hanya dilakukan jika memang wikayah itu positif, ungkapnya.

Menurutnya tidak jarang ada pihak swasta yang datang ke masyarakat langsung dan menawarkan fogging. Namun dia mengimbau agar tidak serta merta dilakukan. Pasalnya obat fogging jika tidak digunakan secara tepat justru akan membuat nyamuk menjadi kebal atau resisten. Sehingga harus menggunakan obat lain dengan dosis lebih tinggi untuk membasminya. “Jadi tidak bisa kok ada yang positif DBD langsung di fogging,” imbuhnya.

Salah satu warga Dlingo, Isnawati mengatakan secara rutin PSN dilakukan dengan pendampingan dari kader kesehatan. Meski begitu jadwal pelaksanaannya tidak dapat dipastikan karena petugas pendamping akan bergilir di masing-masing pedukuhan. Dikatakannya pemantauan jentik nyamuk dilakukan di setiap rumah dengan mengecek semua barang yang berpotensi digunakan nyamuk untuk bertelur. Hasil PSN di pedukuhannya sejauh ini baik, meskipun kondisinya selalu berubah. Terlebih pada musim hujan seperti saat ini banyak barang-barang yang mudah menampung air. “Rutin kok, kadang sebulan sekali sampai tiga kali,” pungkasnya. (C-1)

Read previous post:
KI TAMBANG YUDHA, CIKAL BAKAL KAMPUNG NAMBANGAN (4-HABIS) – Tiga Sendang Dimanfatkan Masyarakat Sampai Sekarang

Banyak kejadian aneh di pekarangan petilasan Ki Tambang Yudha. Selainm pengalaman Hartono, cucu mbah Kromodimejo pemilik tanah pekarangan, kKejadian aneh

Close