Petani Bantul Berjuang Tetap Panen Meski Jamur Serang Tanaman Cabai

MERAPI-RIZA MARZUKI  Petani mencabut tanaman cabai yang terserang jamur.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Petani mencabut tanaman cabai yang terserang jamur.

SANDEN (MERAPI) – Pemicu mahalnya harga cabai dalam bebewapa waktu terakhir salah satunya karena sebagian petani gagal panen. Penyebabnya wabah jamur yang menyerang tanaman cabai sehingga tidak dapat menghasilkan buah sesuai harapan. Sejumlah petani di Srigading, Sanden tengah memutar otak untuk mencoba bertahan dengan harapan masih dapat panen disaat harga cabai tinggi. Salah satu caranya dengan penyemprotan obat tanaman seperti yang dilakukan, Kamis (30/1). Meski mereka harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli obat tanaman tersebut.

Wardoyo, salah satu petani cabai lahan pasir ini setidaknya menghabiskan satu kaleng obat untuk menyemprot tanaman cabai seluas 800 meter persegi. Setiap kaleng obat tanaman itu dibelinya dari toko pertanian seharga Rp 100 ribu. Padahal penyemprotan dilakukannya dua hari sekali. Jika sampai terlambat, jamur atau petani menyebutnya patek akan menyerang tanaman cabai merah keriting miliknya. “Kalau pas tidak ada hujan itu ya bisa tiga hari sekali,” ujarnya.

Pria 50 tahun itu mengatakan bahwa lahan cabbai miliknya itu sudah sempat dipanen tahap pertama. Dalam beberapakali petik setidaknya Wardoyo dapat membawa pulang sekitar 3 kwintal cabai merah keriting. Seulan lalu dia dapat menjual kepada tengkulak seharga Rp 15ribu perkilogram, sedangkan menurut kabar yang diterimanya harga cabai ditingkat petani saat ini sudah menembus harga Rp 28 ribu. “Lha ini gimana caranya supaya bisa panen terus, mumpung mahal,” ucapnya.

Sementara, petani lainnya, Triyoga terpaksa mencabuti tanaman cabai di lahan miliknya lantaran sudah tidak produktif. Padahal warga Dusun Demangan itu baru beberapa kali memanen cabai tersebut. Dia terpaksa mencabut tanamannya lantaran khawatir akan menular pada lahan lainnya. Sebelum dicabut, cabai jenis imperial yang ditanamnya itu di semprot dengan obat supaya mati. Baru setelah mengering tanaman cabai tersebut mudah dicabut. “Sudah tidak punya pilihan lain, daripada yang lain ketularan pateken,” ungkapnya.

Triyoga menyebut jika tanda-tanda jamur di tanaman cabai miliknya mulai muncul setelah turun hujan pertama kali. Cuaca yang awalnya sangat panas dan kering, tiba-tiba diguyur hujan dengan intensitas tinggi diduga menjadi pemicu munculnya wabah jamur tersebut. Dia berharap, pemerintah dapat turun tangan untuk memberikan solusi kepada petani seperti dirinya. Karena menurut pria 50 tahun itu, selama ini petani selalu menjadi obyek kerugian. Selain harus berupaya memproduksi cabai berkualitas baik dan banyak, biasanya petani tidak memiliki peran untuk turut menentukan harga di pasaran. “Mungkin kebetulan pas banyak cabai harganya anjlok, pas mahal seperti ini justru malah tidak panen,” keluhnya.

Anggota DPRD Bantul, Sadji membenarkan hal tersebut. Dia menduga selama ini harga cabai akan sangat tergantung pada permainan para tengkulak. Sehingga sejauh ini soal harga cabai para petani tersebut akan sangat bergantung pada standar yang ditentukan tengkulak. Sehingga sudah seharusnya pemerintah juga ikut memutar otak sehingga keluh para petani ini paling tidak berkurang. “Jangan melulu petani yang jadi korban,” tegas Politisi PAN tersebut.

Sadji mengharapkan pemerintah serius dalam memfasilitasi para petani. Bantul yang salama ini menjadi lumbung pangan DIY, harus jauh lebih maju dalam pertanian dibandingkan dengan wilayah lainnya. Menurutnya perjuangan para petani tidak hanya pada saat gagal panen seperti sekarang. Sejak masa penanaman, bagi Sadji para petani ini harus mempertaruhkan modal besar. Lantaran biaya produksi pertanian juga dinilai sangat tinggi. Melihat harga benih dan pupuk di pasaran, Sadji menilai belum terlihat adanya keberpihakan pemerintah. “Sebenarnya tidak hanya petani cabai, komuditas lain seperti jagung juga sama,” pungkasnya. (C-1)

Read previous post:
Desa Sabdodadi Kembangkan Tanaman Jeruk Nipis

BANTUL (MERAPI) - Untuk menambah penghasilan  masyarakat dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), Pemerintah Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul mengembangkan  tanaman

Close