Harga Cabai Makin ‘Pedas’ Pengusaha Kuliner Terancam Merugi

MERAPI-RIZA MARZUKI   Pedagang menjual cabai seharga Rp 80 ribu perkilogram di Pasar Bantul.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Pedagang menjual cabai seharga Rp 80 ribu perkilogram di Pasar Bantul.

BANTUL (MERAPI) – Cabai kembali membuat pusing para pengusaha kuliner. Pasalnya sejak dua pekan terakhir harga komuditas ini terus mengalami kenaikan. Bahkan di Pasar Bantul, Selasa (28/1) pedagang menjual cabai rawit seharga Rp 80 ribu tiap kilogramnya. Tidak ada pilihan lain bagi para pengusaha kuliner untuk mengurangi jumlah belanja cabai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kerugian karena ongkos produksi yang melambung.

Fani salah satunya, pedagang pecel lele ini setiap hari menghabiskan minimal 2 kg cabai untuk sambal. Sehingga paling tidak dia harus mengeluarkan Rp 160 ribu tiap pagi untuk belanja cabai. Padahal biasanya perempuan 35 tahun itu mengeluarkan tidak lebih dari Rp 50 ribu. Dua kilogram cabai akan habis selama semalam untuk para konsumennya. “Semalam ya habis dua kilo itu, sambal tomat atau sambal bawang,” sebutnya saat ditemui di Pasar Bantul.

Agar tidak menambah ongkos produksi lebih banyak, Fani terpaksa harus mengurangi porsi sambalnya. Biasanya tiap porsi makanan dia menambahkan tiga sendok makan sambal, semenjak harga cabai mahal dia hanya memberikan 2 sendok makan saja tiap porsi makanan. “Jadi sekarang sehari paling cuma habis 1,5 kilo, biasanya sehari dua kilo, ini tiga kilo untuk dua hari,” urainya.

Senada, seorang pedagang mie ayam, Pardi menyebut kenaikan harga cabai ini sangat berdampak terhadap usahanya. Apalagi sambal menjadi pendamping pokok untuk mie ayam dan bakso yang dijualnya. Sambal di warungnya disajikan terpisah dengan mie ayam, sehingga pembeli mengambil sambal sesuai keinginannya. “Kita tidak bisa mengatur, kalau tidak ada sambal pembeli protes,” terangnya.

Pardi mengaku tidak ada pilihan lain, sehingga dipastikan keuntungannya akan mengalami penurunan cukup signifikan. Untuk mengantisipasi kerugian, pria 40 tahun ini terpaksa mengurangi jumlah belanja cabainya. Saat harga cabai masih berkisar Rp 30 ribu, dia mampu beli sekitar 1,5 kilogram. Namun saat harga melonjak seperti saat ini, dia hanya mampu membeli paling banyak 0,5 kg saja. “Sambalnya dikeluarkan ke konsumen sedikit-sedikit. Biar awet, karena kalau kita campur bahan lain rasanya berubah. Bisa-bisa pelanggan pada kapok,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pedagang Pasar Bantul, Tupar mengakui jika omsetnya menurun pasca kenaikan harga cabai. Saat ini setiap hari dia hanya dapat menjual 5 kg cabai rawit. Padahal sebelumnya paling sedikit 15 kg cabai rawit habis terjual tiap harinya. “Ya menurun, jelas. Pembeli mengurangi belanjanya. Katanya sedikit-sedikit yang penting ada cabainya gitu,” sebutnya.

Dikatakan Tupar, harga cabai rawit di Pasar ini mencapai Rp 80 ribu perkilogram. Naik hampir dua kali lipat dibanding sepuluh hari lalu yang hanya mencapai Rp 35 ribu saja. Apalagi pada saat panen raya harga cabai hanya sekitar Rp 15 ribu perkilogram. Harga cabai tersebut dikatakannya merangkak naik dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan secara bertahap mulai dari Rp 30 ribu hingga saat ini mencapai hampir dua kali lipatnya. “Rp 30 ribu, terus Rp 40 ribu, sampai sekarang segitu,” imbuhnya.

Pedagang lain, Sukiyem mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga tersebut. Namun menurutnya kenaikan harga cabai ini dipicu langkanya stok. Pasokan cabai dari petani disebutkan menurun karena bukan masa panen. Apalagi banyak petani yang gagal panen lantaran cuaca yang tidak menentu. “Katanya petani sedang tidak panen,” jelasnya singkat.

Dikonfirmasi terpisah, petani cabai, Tri Yoga mengakui terjadi gagal panen. Pasalnya hampir dua petak lahan miliknya rusak akibat jamur. Padahal tanaman tersebut baru panen sebanyak 2 kali. Seharusnya, dalam dua bulan ke depan masih dapat panen. Semenjak 20 hari terakhir, jamur menyerang tanaman cabainya. “Kalau orang sini sebutnya pateken, itu jamur dan bisa menular ke tanaman lain,” pungkasnya. (C-1)

Read previous post:
Raga Bu Han Dipinjam untuk Nyinden

MENGENAKAN daster warna hijau Bu Han masuk ke kamarnya. Tidak seperti biasanya, Bu Han yang ibu rumah tangga itu berhias

Close