Siapkan Anggaran Rp 360 Juta, Desa Sidomulyo Lanjutkan Pembangunan RTH

MERAPI-PURWANTININGSIH  Edy Murjita sedang meninjau pekerja yang sedang mengerjakan pembangunan RTH.
MERAPI-PURWANTININGSIH
Edy Murjita sedang meninjau pekerja yang sedang mengerjakan pembangunan RTH.

BAMBANGLIPURO (MERAPI) – Pemerintah Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro akan melanjutkan pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada tahun 2020 mendatang. Sarana olah raga dan tempat bermain ini diharapkan menjadi lebih nyaman bagi masyarakat.

Lurah Desa Sidomulyo, Edy Murjita menjelaskan, RTH sudah mulai dibangun sejak tahun 2017 dengan menggunakan anggaran Dana Desa (DD) dan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sekitar Rp 600 juta. Sampai saat ini lokasi tersebut terus disempurnakan dengan menambah beberapa fasilitas lain baik kios untuk menjajakan makanan maupun melengkapi sarana olah raga.

“Saat ini pembangunannya baru sekitar 70 persen. Kita akan terus menyempurnakan lokasi itu agar lebih ramah dan nyaman untuk bermain anak maupun berolah raga. Termasuk kios yang saat ini sebagain sudah digunakan untuk jualan,” kata Edy Murjita di kantor desa setempat, Kamis (19/12).

Dijelaskan, pada tahun 2020, Pemerintah Desa Sidomulyo telah menganggarkan 2 paket kegiatan pembangunan untuk lokasi tersebut. Yaitu Rp 184 juta untuk penyempurnaan 17 kios dengan pemasangan tegel dan paving blok dan Rp 176 untuk membangun paving blok jalan lingkar lapangan sepak bola dan menambah sarana olah raga.

Kios atau kantin di sisi lapangan, merupakan fasilitas bagi warga desa setempat sebagai sarana menambah pendapatan. Sampai saat ini, 17 kios tersebut telah dipesan oleh masyarakat untuk berjualan. Namun, hingga sekarang pemerintah desa belum menarik biaya sewa karena masih dalam tahap penyempurnaan.

“Penjual yang sudah mulai berdagang, sementara ini belum kita kenakan uang sewa. Setelah diresmikan, kita akan bermusyawarah terkait besarnya nilai sewa per kios,” ungkapnya.

Ditambahkan, pemerintah desa belum berani menentukan harga sewa kios per tahun. Meskipun direncanakan harga sewa pertahun sebesar Rp 2 juta, nilai tersebut belum menjadi keputusan dan akan dimusyawarahkan dengan pedagang.

Terpisah, Nanik, salah satu penjual minuman yang telah menempati kios menyampaikan, sejak menggunakan untuk menjajakan dagangannya, belum sepeserpun ditarik biaya sewa oleh pihak desa. Namun, apabila diwajibkan membayar, pihaknya akan berembuk dengan suaminya.

“Kalau harus menyewa, saya akan tawarkan ke suami saya. Apakah akan lanjut berjualan atau berhenti. Tetapi kalau Rp 2 juta per tahun, bagi saya sangat berat,” katanya.

Diakui, saat ini hasil menjual minuman masih belum ramai seperti yang diharapkan. Hanya saat-saat tertentu dagangannya ramai pembeli terutama saat ada kegiatan di lapangan misalnya senam massal. Pasang surut pembeli ini menjadi pertimbangan untuk memutuskan keberaniannya melanjutkan berdagang. (C-7)

Read previous post:
PRABU WATU GUNUNG (3) – Menyerang Suralaya untuk Melamar Bidadari

"Bukan permaisuri. Tetapi selir seorang Bidadari dari Suralaya. Bukankah permaisuriku itu kamu? Kamu itu paling sip jika jadi permaisuriku, pas,

Close