Bantul Smartcity, Harapan Baru Masyarakat Berkemajuan

MERAPI-ISTIMEWA  Bupati Bantul menerima penghargaan salah satu dari 100 kabupatn/kota dalam pelaksanaan smartcity.
MERAPI-ISTIMEWA
Bupati Bantul menerima penghargaan salah satu dari 100 kabupatn/kota dalam pelaksanaan smartcity.

KEMAJUAN Bantul dalam berbagai hal terus digenjot pemerintahan Bupati ddan Wakil Bupati Bantul, Suharsono dan Abdul Halim Muslih. Satu program yang menjadi harapan baru bagi masyarakat Bantul adalah konsep Bantul Smartcity. Program ini terus dikembangkan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Bantul hingga membawa kabupaten ini menjadi salah satu dari 100 kabupaten dan kota se-Indonesia yang mengembangkan sistem ini.

Kepala Diskominfo Bantul, Fenty Yusdayati menyebut konsep Bantul Smartcity ini bukan hanya pada aplikasi di pmerintahan. Namun lebih pada bagaimana kabupaten ini lebih smart (cerdas) dalam berbagai lini. Gerakan Menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan yang berlangsung sejak tahun 2017 ini bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City agar bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat dan potensi yang ada di masing-masing daerah. Sebelumnya, Kabupaten Bantul telah mengikuti penandatanganan Nota Kesepahaman Gerakan Menuju 100 Smart City bulan April 2018 yang lalu. “Jadi ini tidak sekedar aplikasi ya, tapi bagaimana masyarakat ini bisa lebih maju dan mudah mengakses pelayanan mengedepankan teknologi informasi,” sebutnya.

Lebih lanjut, Fenty menjelaskan pemerintah pusat mengharapkan setiap kepala daerah dapat mendorong pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menjawab permasalahan sekaligus meningkatkan kualitas layanan serta mendorong potensi masing-masing daerah. Menuju Bantul Smartcity ini diawali dengan memenuhi beragam parameter seperti Kondisi Keuangan Daerah, Peringkat dan Status Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, serta Indeks Kota Hijau, parameter itu untuk memilih kandidat dari seluruh kota/kabupaten di Indonesia. “Sehingga lebih luas lagi, bagaimana semua aspek di Bantul ini terintegrasi,” jelas Fenty.

Dalam rangka mewujudkan Bantul sebagai Smart City maka percepatan pembangunan insfrastruktur IT secara merata, berkualitas dan terjangkau dan terinegrasi dari beragam sektor sehingga pengawasan data dan pelayanan bisa berjalan secara bersamaan merupakan suatu prasyarat mutlak. Konsep Smart City muncul sebagai tuntutan perlunya membangun identitas kota yang layak huni, aman, nyaman, hijau, berketahanan iklim dan bencana, berbasis pada karakter fisik, keunggulan ekonomi, budaya lokal, berdaya saing, berbasis teknologi dan IT. Dalam konsep solusi Smart City ini, pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat ikut terlibat untuk menjadikan kota menjadi lebih baik.

MERAPI-ISTIMEWA  Kepala Diskominfo Bantul (tiga dari kanan) bersama mentor dan peserta gerakan menuju smarcity.
MERAPI-ISTIMEWA
Kepala Diskominfo Bantul (tiga dari kanan) bersama mentor dan peserta gerakan menuju smarcity.

Fenty menyebut ada 6 pilar yang diperlukan dalam pembangunan smart city yakni Smart Economy, Smart Living, Smart People, Smart Mobility, Smart Government, dan Smart Environment untuk mewujudkan Bantul Smart City yang harus dicukupi pertama kali adalah memfasilitasi kebutuhan akses informasi untuk masyarakat. Dalam rangka mewujudkan Bantul sebagai smart city maka percepatan pembangunan insfrastruktur IT secara merata, berkualitas dan terjangkau dan terintegrasi dari beragam sektor sehingga pengawasan data dan pelayanan bisa berjalan secara bersamaan, merupakan suatu prasyarat mutlak. “Untuk menunjang enam pilar itu,, kami mulai memperkenalkan di masyarakat beberapar program yang disebut quickwin smartcity,” paparnya.

Fenty menyebut quickwin smartcity itu diantaranya adalah Aplikasi Lapor Bantul, Aplikasi Jelajah Bantul, Jaringan Pengelolaan Sampah Mandiri (JPSM), Layanan Pajak yang terdiri dari aplikasi Lapak Bantul dan mobil pajak keliling, serta program DGS Kesehatan dan Jogoriko. Konsep Smart City muncul sebagai tuntutan perlunya membangun identitas kota yang layak huni, aman, nyaman, hijau, berketahanan iklim dan bencana, berbasis pada karakter fisik, keunggulan ekonomi, budaya lokal, berdaya saing, berbasis teknologi dan IT. Dalam konsep solusi Smart City ini, pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat ikut terlibat untuk menjadikan kota menjadi lebih baik. “Semua itu kita pamerkan dalam evaluasi Gerakan Menuju 100 Smartcity di Jakarta tanggal 4-6 November lalu,” terangnya.

Bupati Bantul, Suharsono menyebutkan bahwa pemerintah daerah harus bertransformasi menjadi pemerintah yang cepat dan tanggap. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah inovasi dan implementasi Smart City sebagai solusi yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara tepat dan cepat. Menurutnya Bantul harus mulai menjadi kota yang smart, baik smart government, smart sociality, smart living, dan smart branding. Sehingga pihaknya berharap masyarakat bisa memanfaatkan dengan baik berbagai inovasi yang dilakukan pemerintah. “Saya berusaha supaya Bantul ini bisa menjadi lebih maju dan berkemajuan,” sebut Harsono. (C-1)

Read previous post:
CAKADES BEJI SUPARNO SSos: Tarik Wisatawan, Bangun Rest Area

NGAWEN (MERAPI) - Meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Gunungkidul belum dapat dirasakan seluruh masyarakat terutama Desa Beji, Kecamatan

Close