Sejumlah Titik Kekeringan Sulit Cari Bantuan

MERAPI-RIZA MARZUKI  Warga mengambil air dari tangki PMI Cabang Bantul.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Warga mengambil air dari tangki PMI Cabang Bantul.

DLINGO (MERAPI) – Pemerintah yang menggandeng pihak swasta sudah menyalurkan ratusan tangki air bersih ke daerah kekeringan. Namun begitu sejumlah titik kekurangan air di Bantul mengaku masih kesulitan mencari bantuan. Seperti yang dialami warga Rt 03, Seropan 2, Muntuk, Dlingo, Bantul. Sejak tiga bulan yang lalu mereka kesulitan mendapatkan bantuan air bersih. Meskipun beberapa titik didusunnya sudah mendapat bantuan, namun tidak bagi tiga puluhan warga di wilayah ini.

Raut bahagia nampak di wajah Ali Muslim, takmir Masjid Miftahul Jannah, saat mobil tangki PMI Bantul datang membawakan air bersih, Senin (28/10). Masjid kecil itu terletak di dataran paling tinggi di dusun Seropan 2. Di masjid itu terdapat satu bak tampungan air yang dimanfaatkan oleh warga yang tinggal di sekitarnya. Namun sejak kekeringan melanda bak penampungan lebih sering kosong. Sehingga warga harus menuju ke sumber air yang berjarak 200 meter untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sumber air di bawah (lembah) ya jalan kaki atau pakai motor, mandi nyuci disana, nanti pulangnya bawa jeriken untuk minum dan masak,” terangnya.

Lebih lanjut, Ali mengatakan air dari tampungan masjid tersebut selain digunakan oleh warga sekitar juga dipakai oleh jamaah. Selama musim hujan air dialirkan ke tampungan dari sumber air lain yang berada di sisi barat. Dengan mengandalkan grafitasi dan selang plastik, kebutuhan air sudah cukup. Namun ketika musim kemarau sumber air tersebut kering sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali. Sejak tiga bulan yang lalu pihaknya mencoba mencari bantuan dari beberapa pihak. Bantuan yang tidak pasti dia dapat itu jumlahnya juga tidak banyak, hanya satu atau dua tangki saja. Padahal 5 ribu liter air bersih atau satu tangki air hanya dapat memenuhi kebutuhan selama 4-5 hari saja. “Setelah itu bingung mau cari bantuan siapa lagi,” ujarnya.

Sulitnya mencari bantuan sering kali membuatnya putus asa, sehingga terpaksa harus membeli dari penyedia air bersih swasta. Padahal untuk membeli air dari swasta, Ali harus mengeluarkan dana Rp 200 ribu setiap tangkinya. Harga jasa penyedia air itu meningkat semenjak banyaknya permintaan dari masyarakat. Belum lagi akses jalan dusun yang sempit dan menanjak membuat kendaraan harus sangat hati-hati mencapai lokasi. “Kalau di tempat lain seperti Gunungkidul mungkin Cuma Rp 150 ribu,” imbuhnya.

Relawan PMI Bantul, Yulianto membenarkan lokasi di wilayah Dlingo memang tidak semua mudah dicapai. Truk tangki harus dipastikan sehat karena melewati akses jalan yang curam. Yuli menyebut selama ini pihaknya hanya melakukan dropping sesuai permintaan dari masyarakat. Untuk wilayah Rt 03 Seropan 2 sendiri menurutnya karena ada permintaan donasi dari SMP 1 Bantul. Institusi pendidikan itu melakukan donasi air bersih dari hasil iuran siswanya, sementara untuk titik lokasi donasi sudah ditentukan termasuk Masjid Miftahul Jannah. SMP 1 Bantul mendonasikan biaya dropping air sebesar Rp 1 juta untuk satu lokasi. Dana itu kemudian digunakan untuk operasional 4-5 kali dropping.
“Jadi nanti kalau air habis, warga tidak perlu bingung cari bantuan, karena sudah di backup sekitar satu bulan kedepan,” paparnya. (C-1)

Read previous post:
PELARIAN 5 TAHANAN SUDAH DIRENCANAKAN-Akui Sipir Teledor, Evaluasi Pengamanan Rutan Wates

WATES (MERAPI)- Petugas gabungan masih memburu 2 tahanan Rumah Tahanan Kelas IIB Wates, Kulonprogo yang masih kabur. Upaya lima tahanan

Close