Kekeringan Panjang, Warga Kedungwalikukun Andalkan Sumur Tua

MERAPI-RIZA MARZUKI  Warga mengambil air dengan jeriken-jeriken di sumur.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Warga mengambil air dengan jeriken-jeriken di sumur.

PIYUNGAN (MERAPI) – Musim kemarau tahun ini cukup menyulitkan bagi sebagian warga Kabupaten Bantul. Salah satunya mereka yang tinggal di dusun Kedungwalikukun, Sitimulyo, Piyungan. Sebagian besar wilayah ini mengalami kekeringan yang sudah berlangsung sekitar 2 bulan terakhir. Sebuah sumur tua yang berada di ladang perkampungan dijadikan bak darurat untuk menampung bantuan air bersih. “Jadi sumur ini diisi air dari tangki dan warga menimba untuk mengambil air,” jelas Anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sitimulyo, Suko AB, Rabu (16/10).

Sejak awal musim kemarau, sebagian lahan pertanian di dusun yang berbatasan langsung dengan desa Srimulyo ini sudah tidak digunakan. Hampir setiap tahun kekeringan melanda dusun Kedungwalikukun. Seluruh sumber air yang selama ini digunakan warga perlahan mengalami penurunan debit. Sumur-sumur bor pun sudah tidak lagi dapat disedot. Tidak terkecuali sebuah sumur tua yang berada di ladang warga. Sumur itu berada di lahan pertanian yang mengering dan tidak lagi diolah.

Anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sitimulyo, Suko AB mengatakan sumur tersebut satu-satunya sumur yang masih mengeluarkan air. Namun sejak tiga minggu terakhir air sumur sudah tidak dapat diambil karena terlalu dangkal. Warga akhirnya menggunakan sumur ini untuk menampung air dari tangki-tangki bantuan. Hal ini lantaran minimnya tampungan air di dusun tersebut. Bahkan selain warga dusun Kedungwalikukun, sumur ini juga menjadi tumpuhan warga dusun Kaligatuk desa Srimulyo.

Warga menurut Suko, harus mengeluarkan anggaran khusus untuk membeli air. Jika tidak ada bantuan yang datang, warga akan membeli air bersih kepada penyedia jasa tangki. Tiap tangki air kapasitas 5000 ribu liter, warga harus membayar sebesar Rp 140 ribu. Untuk melakukan dropping air di dusun tersebut juga tidak mudah. Suko menyebut sumur yang digunakan sebagai tampungan itu adalah titik paling mudah yang bisa diakses. Untuk sampai di pemukiman warga, tangki harus memutar melalui sisi timur yang jaraknya cukup jauh. Sedangkan sisi barat dusun ini merupakan perbukitan dengan akses jalan yang menanjak. “Satu tangki biasanya akan habis digunakan warga selama dua hari,” imbuhnya.

Salah satu warga, Tubiman mengatakan bisa 3-4 kali dalam sehari mengambil air di sumur tersebut. Dengan menggunakan sepeda motor, Tubiman membawa jeriken melalui jalan cor blok dari rumahnya. Untuk mencapai sumur, Rubiman harus berjalan kaki menuruni persawahan sekitar 20 meter. Air sumur ditimba dan dimasukkan ke dalam jeriken. “Biar awet ya hanya untuk makan, minum, masak gitu,” jelasnya.

Menurutnya, untuk mengambil air juga dibutuhkan upaya yang tidak mudah. Namun Tubiman sudah tidak punya pilihan lain. Selama ini sumur tersebut menjadi tampungan air paling dekat yang bisa digunakan. “Ya semoga cepat hujan,” harapnya. (C-1)

Read previous post:
Gelar Penggeledahan Rumah, Densus 88 Sudah Tangkap Lima Terduga Teroris di Sukoharjo

SUKOHARJO (MERAPI) - Densus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penggeledahan rumah yang ditempati dua terduga teroris di wilayah Dukuh Waringinrejo,

Close