SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X: Diperlukan Islah untuk Dinginkan Tensi Politik

MERAPI-ANTARA/HERY SIDIK Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan pengarahan acara Syawalan Pemkab Bantul di pendopo Parasamya Bantul.
MERAPI-ANTARA/HERY SIDIK
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan pengarahan acara Syawalan Pemkab Bantul di pendopo Parasamya Bantul.

BANTUL (MERAPI) – Diperlukan upaya membangun islah bagi kedua pihak yang berkontestasi, guna mendinginkan tensi politik usai pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2019. Demikian disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan pengarahan acara Syawalan Gubernur DIY bersama jajaran Pemkab Bantul, Kamis (13/6).

Menurut Sultan, jika diresapi dalam sebuah kesadaran sejarah, saat ini mirip dengan situasi pada tahun 1948, ketika Bangsa Indonesia menghadapi ujian yang diwarnai perpecahan kalangan elitenya karena gesekan politik yang mengancam desintegrasi bangsa.
“Bukankah situasi tahun 1948 itu mirip dengan peristiwa di tahun 2019 ketika kita seakan terbelah menjadi dua golongan bangsa, konsekuensinya diperlukan upaya membangun islah,” kata Sultan.

Ditambahkan Sultan, dalam kajian hukum Islam, islah adalah memperbaiki, mendamaikan dan mengembalikan harmoni kehidupan serta menghilangkan sengketa atau kerusakan, sehingga kalau dalam satu golongan terjadi perbedaan perlu ada pihak ketiga yang menengahi dan mengislahkannya.

“Dalam kaitan ini pada surat Al-Hujarat ayat 10 mengisyaratkan orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah, perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu, dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat,” kata Sultan dilansir Antara.

Oleh karena itu, lanjut Sultan, pada Idul Fitri 1440 Hijriah yang diikuti dengan kegiatan halalbihalal ini bisa dijadikan momen bagi semua pihak untuk mempererat kembali tali saturahim antar umat bangsa, yang tidak hanya sebatas berjabat tangan dan saling memaafkan.

“Melainkan dikembangkan menjadi kebersamaan, kerja sama saling berbagi dan bersinergi dalam membangun peradaban yang bermartabat untuk mengejar kemajuan bangsa-bangsa lain di dunia,” katanya.

Sultan mengatakan, dalam menghadapi hangatnya iklim berpolitikan saat ini, kalangan masyarakat berada di daerah ini harus bersikap dan bertindak sesuai dengan pepatah jawa yaitu “Ngeli Tanpo Keli” atau menghanyut tapi tidak ikut terhanyut.
“Artinya kita yang berada di daerah baik bagi yang bersimpati kepada 01 maupun 02 keduanya amat terbuka untuk bersama-sama memasuki gerbang islah kultural,” katanya.

“Dalam hal ini siapapun termasuk forkominda dapat berinisiatif dan berperan sebagai jembatan islah kebangsaan. Dan islah perlunya prasarat legowo, tanpa legowo dan kesediaan berpasrah diri, rekonsiliasi atau islah politik akan selalu menjadi beban politik nasional,” tandasnya. (*)

Read previous post:
FSS 2019 Gelar Berbagai Even Budaya

TEMANGGUNG (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Temanggung dan Pemkab Wonosobo menggelar festival Sindoro - Sumbing (FSS) untuk melestarikan seni budaya dan

Close