PILIH HEWAN KURBAN – Waspadai Sapi dari TPST

MERAPI-RIZA MARZUKI Sapi di TPST Piyungan dilepasliarkan untuk memakan sampah setiap hari.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Sapi di TPST Piyungan dilepasliarkan untuk memakan sampah setiap hari.

BANTUL (MERAPI) – Menjelang Hari Raya Idul Qurban bulan Agustus, saat ini beberapa titik penjualan hewan kurban mulai bermunculan. Namun dalam mencari hewan kurban, masyarakat diminta lebih waspada. Terlebih lagi terhadap sapi yang berasal dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Meski belum pernah ada penelitian secara mendalam, sapi pemakan sampah ini sering dinilai tidak sehat. Bahkan hingga saat ini belum ada pantauan khusus yang dilakukan terkait peredaran sapi yang dilepasliarkan di TPST tersebut.

Salah seorang warga Sewon, Subagio mengaku sempat khawatir melihat ribuan sapi yang dipelihara di TPST. Sapi-sapi tersebut berbagi makanan dari tumpukan sampah. Menurutnya itu bukan makanan yang baik untuk dikonsumsi hewan pedaging. Pria 30 tahun itu was-was sampah yang dimakan berpengaruh terhadap kualitas dagingnya. Sehingga akan berbahaya untuk dikonsumsi. “Saya tidak tahu sudah pernah diteliti atau belum, tapi ya khawatir saja kalau dagingnya jadi tidak sehat,” ujarnya, Senin (30/7).

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Pulung Haryadi tidak menampik jika sapi pemakan sampah itu berpotensi dijual sebagai hewan kurban. Pulung juga membenarkan jika sampai saat ini belum pernah ada penelitian yang dilakukan terkait kualitas daging sapi pemakan sampah. Jika melihat dari tingkat higienitas makanannya, sampah di TPST tidak layak untuk pakan ternak, karena tingkat kebersihannya kurang. Sehingga memilih sapi untuk dikonsumsi haruslah lebih teliti. “Kami menyarankan agar tidak membeli hewan kurban yang tidak jelas asal dan kondisinya,” sebut Pulung.

Kajian terkait hal ini juga cukup sulit dilakukan. Pasalnya, TPST Piyungan secara regulasi berada di bawah kewenangan provinsi. Untuk melakukan penilitian pun menurutnya tidak mudah karena sapi dilepasliarkan. Pada saat mencari hewan kurban harus dilakukan secara teliti. Tujuannya untuk mendapatkan hewan sesuai syariat, sehingga boleh untuk berkurban dan mengurangi potensi penyebaran penyakit pada hewan. “Penting memastikan bahwa hewan kurban itu sehat,” tandasnya.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPPKP Bantul Joko Waluyo menyebut di Bantul jarang ditemukan sapi pemakan sampah yang beredar. Pedagang sapi di Bantul menurutnya sudah memahami potensi peredaran sapi tersebut, sehingga mereka akan lebih selektif memilih sapi yang akan dijual. Sapi-sapi pemakan sampah itu lebih banyak dijual ke luar daerah karena pedagang jarang mau menerima sapi dari TPST. “Kemungkinan malah dijual ke luar daerah,” terangnya.

Sementara itu, menjelang Idul Qurban, DPPKP Bantul meningkatkan pengawasan terhadap laju ternak. Semakin mendekati hari raya distribusi ternak dari dalam dan luar daerah semakin besar. Sehingga dia ingin memastikan hewan kurban yang diperjualbelikan layak untuk dikonsumsi. “Kita akan menerjunkan petugas termasuk petugas yang diperbantukan,” terangnya.

Di sisi lain, Pengasuh Pondok Pesantren Al Imdad Bantul, KH Habib Syakur menjelaskan secara hukum fiqih tidak ada larangan membeli sapi pemakan sampah sebagai hewan kurban selama sudah cukup umur, sehat, dan tidak cacat. Apalagi menurutnya hewan memakan makanan bersifat najis masih diperbolehkan, asalkan tak mempengaruhi kesehatan hewan itu sendiri. “Contohnya sapi yang terlalu kurus atau ungkris-ungkrisen, itu tidak boleh. Ini dari hukum fiqihnya ya, kalau dari segi kesehatannya ya lebih baik memilih hewan kurban yang jelas-jelas sehat saja,” pungkasnya. (C-1)

 

Read previous post:
CERITA MISTERI – Lho? Tangan Suamiku Berbulu!

JUMAT petang Surtini (bukan nama sebenarnya) tampak gelisah, karena suaminya belum juga sampai rumah, padahal biasanya pukul lima sore sudah

Close