Petani Buah Naga di Sanden Bantul Mulai Garap Sektor Wisata

Petani memanen tanaman buah naga di Pantai Pandansari, Sanden, Bantul. (MERAPI-RIZA MARZUKI)
Petani memanen tanaman buah naga di Pantai Pandansari, Sanden, Bantul. (MERAPI-RIZA MARZUKI)

SANDEN (MERAPI) – Permintaan buah naga dari petani Sanden, Bantul menjelang perayaan Imlek cenderung merosot dalam dua tahun terakhir. Penyebabnya pasokan buah naga di DIY kini dipenuhi kiriman dari daerah Jawa Timur. Petani pun mengandalkan pemasukan dari wisatawan yang bisa memetik langsung buah naga.

Seorang petani buah naga di Pantai Pandansari, Sanden, Bangkit Sunandar (35) mengatakan, pasokan buah naga dari Banyuwangi mulai merajai pasar di DIY sejak tiga tahun terakhir. Pedagang buah memilih buah naga kiriman dari luar daerah itu lantaran harganya lebih murah. “Mungkin bisa lebih murah karena produksi mereka lebih banyak, jadi sekali setor bisa sangat banyak,” terangnya, Rabu (7/2).

Kondisi tersebut berbeda dengan kemampuan petani di wilayahnya. Lahan pertanian di pesisir selatan belum banyak yang digunakan untuk menanam komoditas buah ini. Belum lagi masa panen yang hanya terjadi sekali setahun pada musim penghujan saja. Biasanya panen dilakukan mulai bulan November hingga Maret. Setelah itu tidak ada lagi buah yang bisa dipetik.

“Yang butuh perawatan ekstra saat pascapanen, harus memangkas pohon biar tumbuh yang baru dan mengganti tiang yang roboh,” ungkap Bangkit.

Menurutnya, selama musim panen tanaman buah naganya bisa menghasilkan hampir 10 ton buah. Selama ini dia merawat sebanyak 1.665 rumpun tanaman buah naga yang ditanam di lahan seluas 2,1 hektar. Meski sebelumnya dia pernah memasok buah naga hingga ke Jakarta, Badung dan sejumlah supermarket namun kini seluruh hasil panennya hanya dijual di sekitar Pantai Gadingsari. Sesekali diambil oleh pedagang buah dari daerah sekitar. Selain itu pihaknya juga melayani pengunjung pantai yang membeli dengan cara memetik buah sendiri. “Kebanyakan malah dibeli pengunjung, mereka datang dan metik sendiri,” imbuhnya.

Gading mengaku, setiap hari libur setidaknya 400-500 pengunjung datang dan memetik buah naganya. Antusias wisatawan ini memberi harapan baru bagi Bangkit. Bahkan setiap hari libur atau akhir pekan dia bisa menjual hingga 4 kuintal buah naga kepada wisatawan. Meski begitu dia tidak lantas mencari untung besar, setiap kilogram buah naga dijualnya seharga Rp 10 ribu-Rp 15 ribu. “Saya tidak keluar tenaga karena tinggal menunggui pengunjung yang memetik sendiri,” paparnya.

Pengunjung kebun buah naga, Nurhadi mengaku sengaja mengajak istri dan anak balitanya ini memetik buah naga sebagai wisata edukatif. Meski dia sering meluangkan waktu bersama keluarga untuk berwisata, namun memetik buah naga menjadi alternatif yang harus dicoba. Setelah satu kranjang penuh berhasil dipetiknya, warga Pleret Bantul ini kemudian menuju ke tempat duduk tidak jauh dari pantai. Di bawah pohon cemara keluarga kecil ini menikmati hasil panen buah naga. “Jarang bisa bersantai sambil menikmati buah segar yang baru saja dipetik,” ujarnya.

Petani memanen tanaman buah naga di Pantai Pandansari, Sanden, Bantul. (MERAPI-RIZA MARZUKI)
Petani memanen tanaman buah naga di Pantai Pandansari, Sanden, Bantul. (MERAPI-RIZA MARZUKI)

Read previous post:
Calon anggota PPK Kabupaten Sleman mengikuti ujian tertulis di Hotel Prima SR. (MERAPI-ATIEK WIDYASTUTI)
Pasar Demangan Makin Semrawut, Jam Operasional Pedagang Tumpah Akan Dibatasi

UMBULHARJO (MERAPI) - Upaya mengatasi persoalan pedagang tumpah di Pasar Demangan Yogyakarta sampai kini masih dirumuskan. Solusi yang mengemuka adalah

Close