Arisan Macet, Belasan Emak-emak Tuntut Pengembalian Dana Rp 1 M

BANTUL (MERAPI)- Belasan wanita korban arisan online Hoki melakukan aksi unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Kamis (10/6). Selain melakukan aksi, para korban juga melayangkan gugatan kepada tergugat I, Ny GP sebagai owner arisan dan suaminya tergugat II, DT seorang anggota DPRD Bantul agar mengembalikan uang milik para peserta korban arisan yang jumlahnya mencapai Rp 1 miliar lebih.
Para korban atau 17 penggugat yang sebagian besar wanita ini datang ke PN Bantul dengan membentangkan kertas bertuliskan “Berikan Hak Kami, Kembalikan Uang Arisan Kami” sampai “Arisan Ki Mbayar Ora Gratisan”.
Salah satu korban, Ayu alias Mya (33) mengatakan, sebelumnya ia mengikuti arisan online ‘Hoki’ sejak April 2020.

Awalnya pencairan arisan berjalan lancar sampai akhirnya macet pada akhir tahun 2020.
Korban Mya sendiri mengaku mengalami kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Meski ia beberapa kali menang arisan tetapi terakhir tidak mendapatkan uang. “Kerugian saya sekitar Rp 20 juta,” jelasnya.
Sedangkan korban lainnya, Dian Astikasari (33) mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah meski telah 4 kali menang arisan. Awalnya ia mengikuti arisan sejak November 2020. Semula arisan berjalan lancar. Sejak Januari 2021 terjadi gagal bayar dan dia mengalami kerugian Rp 120 juta.
Dalam sidang pertama gugatan dengan Nomor Perkara 51/Pdt.G/2021/PN.Btl yang dipimpin majelis hakim diketuai Agus Supriyono SH tersebut digelar tanpa dihadiri kedua tergugat. Tergugat I GP sebagai owner arisan dan tergugat II DT sebagai suaminya tidak hadir, keduanya hanya diwakili kuasa hukumnya. Meski begitu majelis hakim tetap melanjutkan persidangan dan menunjuk hakim mediator untuk melakukan mediasi kedua belah pihak yang akan dilakukan pada 22 Juni mendatang.

Kuasa hukum para penggugat, Marhendra Handoko SH mengatakan, sebelum melakukan arisan, semua member tidak saling mengenal satu sama lain karena sistemnya hanya melalui grup WhatsApp. Sementara untuk pembayaran dilakukan transfer langsung ke rekening owner. Atas macetnya arisan dan terjadinya gagal bayar pihak kuasa hukum penggugat sebelumnya menemui suami GP untuk meminta kejelasan tetapi hanya janji-janji palsu dan tidak pernah ada realisasi.
Selain melakukan gugatan, kuasa hukum penggugat akan melapor kepada Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA) agar perkara ini dipantau. “Kami sudah upaya kekeluargaan sejak bulan Januari sampai saat ini tetapi tidak ada hasilnya. Bahkan tergugat II sebagai anggota dewan mengakui istrinya salah dan siap bertanggungjawab serta berjanji akan menyelesaikan pembayaran. Tetapi karena tak pernah dipenuhi maka kami ajukan gugatan di pengadilan,” jelas Marhendra.
Sementara kuasa hukum para tergugat, Arwan Robikan SH menyatakan, kedua tergugat tidak bisa hadir di persidangan karena alasan kesehatan dan pekerjaan. “Kedua tergugat saat ini memang tidak bisa hadir. Untuk itu dalam mediasi nantinya akan kami upayakan untuk bisa hadir,” jelasnya. (Usa)

Read previous post:
Ada Harimau di Dalam Tubuh Melati

SEORANG gadis, sebut saja Melati, berusia kisaran 14 tahun berkisah padaku. Suatu malam datang seorang tukang urut ke rumahnya. Tukang

Close