Ada Ranjang Tempat Lahir Sultan HB IX di Anjungan DIY TMII

ANJUNGAN DIY di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ternyata memiliki banyak koleksi peninggalan sejarah. Salah satu yang menarik ialah ranjang tempat Sri Sultan HB IX dilahirkan pada 12 April 1912.

“Pesarean Tedeng ini sudah berusia ratusan tahun, tapi dipan masih kokoh. Diberikan oleh trah Sultan yang ada di Jakarta,” ujar Kepala Badan Penghubung Daerah (Banhubda) DIY, Nugrohoningsih, Senin (7/6).

Di anjungan DIY yang berdiri di atas tanah seluas 8.165 meter persegi dengan bangunan seluas 2.694,45 meter persegi juga menyimpan pesarean Pangeran Diponegoro dan pesarean peninggalan Sri Sultan HB V yang berbahan marmer. Selain itu juga tersimpan koleksi pusaka yakni tombak pusaka Kyai Garuda Temanten, keris pusaka berluk tiga dengan pamor beras wutah bernama Kyai Jangkung Pacar.

Anjungan DIY TMII dibangun Yayasan Guntur Madu yang dibentuk oleh Sri Sultan HB IX yang dikelola hingga tahun 2001. Selanjutnya, diserahkan kepada Pemda DIY melalui Banhubda dengan Berita Acara Serah Terima Pengelola Anjungan DIY TMII pada 2 Juli 2001.

“Sampai saat ini pengelolaan Anjungan DIY TMII menjadi tanggung jawab Banhubda DIY,” imbuhnya.

Saat ini anjungan berfungsi sebagai pusat pelestarian dan promosi budaya, pendidikan, dan pusat informasi produk UMKM Yogyakarta. Beberapa diklat seni dan berbagai kegiatan pertunjukan kesenian serta pameran juga dilaksanakan secara rutin.

Pentas Seni yang diselenggarakan di Pendopo Anjungan DIY TMII diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, Taman Budaya DIY, dan Dinas Kebudayaan kabupaten/Kota yang ada di DIY dan juga paguyuban masyakatat DIY di Jakarta dan dengan seniman dan seniwati gagrak Yogyakarta di Jakarta.

Adapun arsitektur anjungan DIY mengadopsi dari Kraton Yogyakarta yang dibangun tahun 1974 dengan candra sengkala ‘Warna Sapta Kusumaning Bawana’. Anjungan merupakan gambaran Rumah Pangeran atau nDalem Pangeran Nata Praja/Notoprajan.

Bagian anjungan meliputi regol pintu masuk yang menghadap ke utara dengan bangunan arsitektur tradisonal yang disebut Tajuk Lawakan, simbol dua raksasa kembar Gupolo yang berarti sifat baik dan jahat, serta Kuncungan yang merupakan bagian bangunan yang terletak di posisi paling depan, dan di bagian bangunan ini terdapat tulisan huruf jawa candra sengkala.

Terdapat Pendopo Agung yang biasa dipergunakan untuk kegiatan kesenian, Longkangan untuk tempat persiapan para peraga seni, Pringgitan sebagai tempat yang biasa digunakan pementasan wayang kulit serta Ndalem Ageng yang merupakan rumah induk apabila ditempati oleh seorang pangeran, dilengkapi dengan senthong tengah (disebut krobongan), senthong tengen dan kiwo (kanan dan kiri).

“Ada juga Gadri, bangunan yang dahulu dipergunakan untuk kegiatan keluarga namun kini untuk pameran dan setting seperangkat gamelan slendro dan pelog. Gandhok Tengen/kanan yang berbentuk Limasan Pacul digunakan untuk ruang kantor bagi karyawan Anjungan DIY dan ruang rapat,” jelasnya. (C-4)

Read previous post:
Sembuhkan Rematik, Anemia dan Mata Kering

DAUN seledri adalah jenis sayuran rendah kalori yang dapat dijadikan sebagai bahan pelengkap menu masakan misalnya sayur sup. Selain itu,

Close