Corona Meroket di Gunungkidul, Satu RT Lockdown Lokal

WONOSARI (MERAPI)- Kasus penularan Covid-19 di Kabupaten Gunungkidul meledak sebulan pasca Lebaran dengan wilayah penularan tertinggi di Kapanewon Playen. Akibatnya, satu yakni RT 08 di Kalurahan Dengok, Playen lockdown lokal, Rabu (9/6) menyusul puluhan warga terkonfirmasi positif. Di kapanewon yang sama, klaster penularan di pabrik tas juga terus berkembang dengan data terakhir lebih 25 orang terpapar corona.
Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Hery Nugroho SS mengaku prihatin dengan meningkatnya kasus Covid-19 ini. Dia meminta Satuan Tugas kabupaten hingga kalurahan mengambil langkah. “Ada indikasi Satgas Penanggulangan Covid-19 mulai loyo dan hal ini seharusnya menjadi prioritas,” katanya kepada wartawan, Rabu (9/6) kemarin.

Secara terpisah, Lurah Dengok Suyanto menyatakan dalam beberapa hari terakhir total warga terkonfirmasi positif dan menjalani karantina mencapai 30 orang lebih. Sebagian besar berada di Padukuhan Dengok II dan sebagian lain dari hasil tracing yakni dari RT 07 dan 08. Adapun kasus penularan ini bermula salah seorang warga meninggal setelah dirawat karena terkonfirmasi covid-19. Setelah dirawat, warga tersebut meninggal, dan langsung dimakamkan pada tengah malam dengan protokol kesehatan. Setelah itu, keluarga dilakukan tracking menggunakan tes antigen dan saat itu hasilnya negatif. Namun, pada sore harinya salah seorang keluarga mengalami sesak nafas, dan dibawa ke rumah sakit. “Ternyata yang bersangkutan terkonfirmasi positif setelah menjalani tes swab PCR,” imbuhnya. Selanjutnya dilakukan tracing dan kemudian ditemukan puluhan warga terpapar corona. Untuk mencegah penularan meluas, sartgas Covid-19 setempat pun kemudian membatasi pergerakan warga dengan lockdown lokal.
Di Bantul, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bantul mendorong agar ada upaya paksa dari Satgas Covid-19 berbagai lintas kepada warga yang diduga menjadi provokator kasus penolakan prosedur pemakaman Covid-19 di Lopati, Trimurti, Srandakan, Bantul. Sebelumnya dalam swab massal, terduga provokator ini absen. Seperti diketahui, kasus ini mencuat setelah warga enggan memakai APD saat memakamkan jenazah pasien corona.

Kemudian puluhan warga diminta swab massal sebagai upaya tracing.
Ketua FPRB Bantul, Waljito menyesalkan belum adanya itikad baik dari terduga provokator untuk menjalani swab. Menurutnya, pasca melaporkan terduga tersebut, pihaknya kemudian merekomendasikan kepada Satgas Covid-19 setempat untuk melakukan tracing dan uji swab kepada warga yang diketahui berkontak erat dengan jenazah. “Kalau toh persuasif tidak mempan, harus upaya paksa,” tegasnya Rabu (9/6).
Tracing dan swab itu menurut Waljito adalah tugas negara untuk menyelamatkan masyarakat dari penyebaran Covid-19. Terlebih lagi di dalam Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten termasuk Satpol PP, Polisi, dan TNI sebagai tim penegakan. Seharusnya untuk melakukan upaya paksa kepada warga bukan perkara sulit. “Bayangkan jika mereka (warga) ini positif Covid-19 dan mereka beraktivitas secara bebas, kasian masyarakat yang tidak bersalah akan tertular,” imbuhnya.
FPRB menurutnya berada dalam ranah pengurangan risiko penularan dan antisipasinya. Karena sebelum pelaporan ini, terjadi penolakan terhadap prosedur pemakaman yang menurut Waljito kontra terhadap kebijakan penanganan Covid-19. “Kalau tidak bisa melakukan upaya paksa kenapa aturan itu harus dibuat,” tegasnya.

Lebih lanjut, perkara laporan terhadap orang yang diduga melakukan provokasi kepada warga untuk menolak pemakaman itu, Waljito meminta agar penyidik tetap bisa memanggil yang bersangkutan. Sehingga proses hukum bisa berjalan sesuai dengan kapasitas laporan yang diterima kepolisian. Terlebih menurutnya masyarakat membutuhkan penjelasan dari narasi-narasi penolakan yang dilontarkan oleh terduga. “Jangan kemudian menjadi peristiwa yang hilang begitu saja tidak ada pembelajaran sama sekali,” pungkasnya.
Sementara itu Pemda DIY melaporkan penambahan 304 kasus positif Covid-19, Rabu (9/6) sehingga total kasus terkonfirmasi menjadi 46.977 kasus.
“Penambahan kasus sembuh sebanyak 210 kasus sehingga total sembuh menjadi 42.991 kasus dan 7 kasus meninggal sehingga total kasus meninggal menjadi 1.239 kasus,” ujar Juru Bicara Pemda DIY untuk penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih.
Dijelaskan, distribusi kasus terkonfirmasi Covid-19 menurut domisili terdiri dari 32 warga Kota Yogyakarta, 116 warga Bantul, 22 warga Kulon Progo, 23 warga Gunung Kidul, dan 111 warga Sleman.
“Rincian riwayat kasus terdiri dari 54 kasus periksa mandiri, 219 kasus hasil tracing kasus sebelumnya, 2 kasus perjalanan luar kota, dan 29 kasus belum ada info,” ujarnya.
Distribusi kasus sembuh terdiri dari 23 warga Kota Yogyakarta, 92 warga Bantul, 34 warga Kulon Progo, 5 warga Gunungkidul, dan 56 warga Sleman.
(Pur/C-1/C-4)

Read previous post:

JAKA SAMUDRA, DIBUANG DI LAUTAN DITABALKAN JADI SUNAN (8) -Dikirim ke Pesantren Ampeldenta di Surabaya untuk Nyantri Di Jawa, Nyai

Close