Corona Masih Tinggi, Pejabat di DIY Diimbau Tak Gelar Open House


YOGYA (MERAPI)-Gubernur DIY Sri Sultan HB X menegaskan tidak akan menggelar acara open house pada Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Sebab tersebut memicu kerumunan dan berpotensi penularan virus Covid-19. Diharapkan semua pejabat di DIY juga melakukan hal yang sama.
“Saya enggak menyelenggarakan open house. Kemarin (Lebaran 2020) kan kami juga tidak menyelenggarakannya,” kata Sultan, Rabu (5/5) di DPRD DIY.
Sultan mengimbau kepala daerah di kabupaten/ kota juga tidak menyelenggarakan open house saat lebaran pada masa pandemi Covid-19.
“(Open house) itu tempat berkerumun, tidak usah,” tegasnya.
Sekda DIY, Baskara Aji menambahkan sudah ada surat edaran larangan bagi kepala daerah yang menyelenggarakan open house dan wajib dipatuhi karena berpotensi menyebarkan virus. Terlebih, penularan di Yogyakarta masih cukup tinggi.

“Pokoknya semua kegiatan yang menyebabkan kerumunan dilarang,” ujarnya.
“Halal bihalal tidak ada termasuk di dalamnya open house. Pak Gubernur sudah kita set tidak ada open house, wagub tidak ada open house, kepala dinas tidak usah open house, silakan buka pintu tapi tidak usah menggumpulkan orang. Itu tidak hanya berlaku para ASN tapi juga bagi keluarga,” paparnya.
Sementara itu, Pemda DIY melaporkan penambahan 232 kasus positif Covid-19, Rabu (5/5) sehingga total kasus terkonfirmasi menjadi 40.372 kasus.
“Penambahan kasus sembuh sebanyak 261 kasus sehingga total sembuh menjadi 35.891 kasus dan 6 kasus meninggal sehingga total kasus meninggal menjadi 987 kasus,” ujar Juru Bicara Pemda DIY untuk penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih.
Disebutkan, distribusi kasus terkonfirmasi Covid-19 terdiri dari 20 warga Kota Yogyakarta, 95 warga Bantul, 23 warga Kulon Progo, 5 warga Gunungkidul, dan 89 warga Sleman.

“Rincian riwayat kasus terdiri dari 6 kasus periksa mandiri, 165 kasus hasil tracing kasus sebelumnya, dan 61 kasus belum ada info,” jelasnya.
Distribusi kasus sembuh terdiri dari 35 warga Kota Yogyakarta, 113 warga Bantul, 41 warga Kulon Progo, 23 warga Gunungkidul, dan 49 warga Sleman.
Adapun rincian kasus meninggal terdiri dari kasus 37.106, perempuan usia 70 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 38.041, perempuan usia 56 tahun warga Sleman, kasus 38.669, perempuan usia 78 tahun warga Sleman, kasus 39.978, Laki-laki usia 80 tahun warga Gunungkidul, kasus 39.979, perempuan usia 53 tahun warga Gunungkidul dan kasus 40.138, perempuan usia 73 tahun warga Sleman. (C-4).

Read previous post:
Pemkab Kulonprogo Larang Salat Id di Lapangan

Close