Bumbu Sate Klepek-Klipuk


Oleh: Sudjito Atmoredjo*

Klepek-klepek artinya tak berdaya. Klipuk adalah puncak dari ketakberdayaan, yakni kematian. Itulah nasib tragis yang dialami Naba Faiz (NF), warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul (24/4/2021). NF meninggal karena menyantap sate kambing plus bumbu kalium sianida (KCN). Kabar ini cepat viral di media sosial. Apa yang tersurat di artikel ini, merupakan rangkuman dan analsis atas kabar berita itu hingga Senin (3/5/2021).
Awalnya, sate dikirim seorang wanita ke Tomi (penyidik senior di Polda DIY), beralamat di Kasihan, Bantul, melalui jasa ojol tanpa aplikasi. Tomi, karena merasa gak pesan, dan saat datangnya kiriman masih di luar kota, maka melalui isterinya disarankan agar diriman ditolak, dan sate diberikan kepada tukang ojek – Bandiman (orang tua NF).
Tanpa curiga barang secuilpun, sate diterima, dan dibawa pulang. Dengan perasaan senang dan penuh kasih-sayang, sate dimakan bersama isteri, dan anaknya (NF). Tak berselang lama, NF muntah-muntah. Nyawanya tak tertolong.
Kematian misterius ini menggemparkan. Polisipun tanggap dan segera melakukan penyelidikan. Tak berselang lama, seorang wanita berinisial NA (asal Majalengka, Jawa Barat, yang tinggal di Potorono, Bantul), ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Dialah pengirim sate berbumbu racun KCN.
Oleh polisi ditemukan bukti bahwa KCN telah dipesan NA secara online sejak akhir Maret 2021. Dari bukti ini, disimpulkan ada pembunuhan berencana. Kepada NA ditimpakan Pasal 340 KUHP Sub-Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76 C Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU Nomor 23 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman: hukuman mati atau paling lama 20 tahun penjara.
Apa motifnya? Kabar sementara, karena sakit hati, setelah Tomi menikah dengan orang lain. Benarkah demikian? Sidang pengadilanlah yang berwenang membuka tabir kejahatan ini. Beberapa catatan sebagai hasil analisis, sebagaimana terurai di bawah, kiranya patut menjadi pembelajaran semua pihak.
Pertama, dalam perspektif yuridis-religius, cinta dan benci itu naluri setiap manusia. Sejak awal penciptaan, Allah SWT telah mengkaruniakan potensi cinta dan benci di dalam jiwanya. Tak kurang dari itu, agama mengajarkan: “cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu suatu saat ia menjadi kekasihmu.”
Agamawan – Quraish Shihab (2007: 311) – mengingatkan, kondisi kalbu (dari kata qalaba) manusia rentan berbolak-balik. Bergerak antara benci dan cinta. Sebelum bercinta, seseorang merasa dirinya “ada”. Tetapi, ketika bercinta, ia dapat merasa memiliki segala yang “ada” atau tidak memperhatikan yang “ada”. Ketika cintanya putus, ia merasa tidak ada, dan hampa. Cinta berubah total menjadi benci. Maka, terpikir, pemutus cintanya perlu ditiadakan. Demikian itulah perkiraan kondisi kalbu yang menyelimuti NA.
Kedua, berdusta itu dilarang. Tetapi dikalangan orang yang lagi mabuk asmara, dusta amat rentan terjadi. Semakin dekat hari kiamat, semakin marak kedustaan. Sabda Rasulullah SAW “Mendekati kiamat akan muncul para pendusta. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka.” (HR Muslim). Lebih dalam lagi ”jangan ada dusta di antara kita”. Sebaliknya, kejujuranlah yang harus ditingkatkan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang selalu bertindak jujur, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR. Bukhori dan Muslim). Kalau NA beragama Islam, bukankah hadist-hadist di atas telah diajarkan kepadanya? Mengapakah ajaran mulia itu dilalaikan?!
Ketiga, dalam perspektif yuridis-normatif, KCN, termasuk salah satu sediaan farmasi, di samping obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika (PP No. 72/1998). Semua sediaan farmasi hanya dapat diedarkan setelah memperoleh izin edar dari Menteri Kesehatan – kecuali obat tradisional yang diproduksi oleh perorangan (Pasal 9).
Secara empiris, KCN mudah diperoleh dan rentan disalah gunakan masyarakat. Kasus sate beracun KCN, hanyalah satu di antara contohnya. Oleh karenanya, masyarakat selayaknya berperan aktif, ikut serta mewujudkan perlindungan masyarakat, antara lain: melaporkan kepada instansi Pemerintah yang berwenang, bila ada bahaya yang timbul akibat peredaran dan penyalahgunaan KCN (Pasal 48-50). Bijak pula bila izin edar KCN ditinjau ulang, dan diperketat.
Pada kasus sate beracun KCN, dan musibah yang menimpa NF, Pak Bandiman dan keluarganya, sungguh banyak hikmah di balik kejadiannya. Layak dijadikan pembelajaraan semua pihak. Semoga NF husnul khatimah. Dan NA segera bertobat.

*)Prof Dr Sudjito SH MSi, Guru Besar Ilmu Hukum UGM

Read previous post:
Grab Dukung Pemulihan Pariwisata di Destinasi Super Prioritas Borobudur

MAGELANG (HARIAN MERAPI) - Grab Indonesia sebagai salah satu mitra Co-Branding Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kembali menunjukkan dukungan terhadap

Close