POLISI REKONTSRUKSI PEMBUNUHAN BERANTAI DI WISMA SERMO-Dessy Didorong Sampai Kepala Membentur Tembok

PENGASIH (MERAPI)- Proses rekonstruksi atau reka ulang adegan pembunuhan yang dilakukan Nurma Andika Fauzy (22) alias Dika, warga Tawangsari Pengasih terhadap Dessy Sri Diantary (22) warga Gadingan Wates, kembali digelar petugas Polres Kulonprogo dengan mengambil lokasi di Wisma Sermo, Kedungtangkil Karangsari Pengasih, Rabu (28/4). Sebelumnya, pada 20 April lalu reka ulang adegan kasus ini sempat digelar di dua lokasi, yakni depan rumah dinas Bupati Kulonprogo dan sebuah warung kelontong di depan GKJ Wates.
Jika sebelumnya reka ulang kasus memperagakan 11 adegan, di Wisma Sermo tersangka memperagakan 42 adegan sehingga total adegan yang diperagakan sebanyak 53. Dari reka ulang ini, polisi menemukan sejumlah fakta baru, di antaranya perhiasan berupa anting-anting tidak diambil paksa oleh tersangka melainkan diserahkan korban untuk membayar utang. Keduanya juga sempat terlibat cek cok dan saling dorong hingga kepala Dessy terbentur tembok.

“Korban ditinggalkan tersangka di Wisma Sermo dalam keadaan masih hidup sebelum akhirnya meninggal dunia,” kata Kasat Reskrim Polres Kulonprogo, AKP Munarso, usai rekonstruksi.
Dalam proses rekonstruksi tergambar setiap adegan mulai dari kedatangan Dika dan Dessy ke area Wisma Sermo. Pada adegan ke 14, keduanya nampak duduk di lobi depan wisma. Dika kemudian pamit buang air kecil dan ketika kembali, ia mengajak Dessy masuk ke emperan wisma sisi selatan. Tempat ini lebih tersembunyi dan tidak terlihat orang.

Dika kemudian berjalan kembali ke lobi depan untuk mengambil minuman, sementara Dessy menunggu di emperan selatan. Tanpa sepengetahuan Dessy, Pada adegan ke 24 tergambar Dika memasukkan 3,5 butir obat sakit kepala ke salah satu minuman bersoda yang sebelumnya dibeli di warung kelontong depan GKJ Wates. Sisa setengah butir obat disimpan Dika di dalam dashboard motor. Minuman oplosan maut itu sempat dikocok, lalu diletakkan di dalam plastik dalam posisi bagian ujungnya terbalik.
“Ujungnya diletakkan terbalik sebagai tanda antara minuman yang masih asli dengan yang sudah dioplos. Minuman yang sudah dioplos dengan obat sakit kepala kemudian disuguhkan kepada korban,” imbuh Munarso.
Saat diletakkan di samping Dessy, minuman itu tidak langsung diminum, karena Dessy makan camilan terlebih dahulu. Setelahnya, ia minum minuman bersoda yang disuguhkan Dika. Tak berselang lama, oplosan maut itu bereaksi. Dessy merasa pusing.
Keduanya kemudian terlibat cek cok setelah Dika menagih utang sebesar Rp 450.000 kepada Dessy hingga membuat Dessy merasa kesal. Dessy lantas menampar Dika sebanyak dua kali pada bagian pipi. Keduanya bahkan terlibat aksi saling dorong. Namun karena sudah dalam pengaruh minuman oplosan, Dessy jatuh saat didorong Dika hingga kepalanya terbentur tembok.

“Ini sesuai dengan hasil otopsi korban yakni adanya pendarahan pada kepala bagian belakang atau otak kecil hingga menyebabkan kematian. Jadi korban didorong kemudian terbentur tembok, bukan langsung dibenturkan,” terang Munarso.
Munarso menambahkan, hasil analisa terhadap reka ulang adegan menyebutkan, niat tersangka melakukan penganiayaan terhadap korban sudah muncul sejak awal, terbukti dengan pembelian minuman bersoda dan obat sakit kepala di daerah Wates, berjarak sekitar 5km dari lokasi kejadian. Minuman tersebut kemudian disuguhkan kepada korban. Selain itu, tersangka juga berpindah lokasi dari tempat umum di depan lobi menjadi tempat tersembunyi yang tidak banyak terlihat orang yakni di emperan sisi selatan. Hal ini dilakukan pelaku supaya kejahatannya tidak diketahui orang.
Munarso menyebut, ada fakta-fakta baru yang terungkap dari hasil rekonstruksi. Di antaranya, anting-anting Dessy yang semula dicurigai dilepas dan dibawa kabur tersangka ternyata dilepas sendiri oleh korban lalu dimasukkan ke dalam tas. Perhiasan itu kemudian diakadkan korban untuk membayar utang yang ditagih tersangka sebesar Rp 450.000.
“Saat ditinggalkan, korban belum meninggal, korban masih hidup sebelum akhirnya meninggal dunia,” imbuhnya.
Ditanya terkait pakaian korban yang tersingkap saat tubuhnya ditemukan, menurut Munarso hal itu tergambar dari proses rekonstruksi, yakni saat korban sempoyongan akibat minuman oplosan sehingga ditolong tersangka.

Tubuh korban diangkat tersangka agar bisa kembali berada di lantai teras, karena sebelumnya korban merangkak ke tanah untuk mengambil HP yang terjatuh. Saat itulah, pakaian korban tersingkap.
“Dengan adanya rekonstruksi dan fakta-fakta baru itu, sudah membuktikan yang dilakukan tersangka merupakan perencanaan. Tersangka kami jerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup,” kata Munarso.
Sementara itu, Kuasa Hukum Tersangka, Danang Kuncoro Wijaya menyampaikan, dalam pendampingan pihaknya tersangka masih dipandang melanggar dua pasal yakni 338 dan 365 KUHP, belum mengarah ke 340 KUHP. Terkait perkembangan lainnya, Danang masih menunggu penyelidikan lebih lanjut atau info petunjuk dari jaksa dan penyidik.
“Untuk bukti lain yang meringankan, saya kira kami belum menerima. Nanti pembelaan hak-haknya saja. Semua sudah melihat reka ulangnya tadi, tinggal menunggu fakta persidangan seperti apa,” katanya.
Danang juga tidak mempermasalahkan perkembangan reka ulang adegan di Wisma Sermo yang sebelumnya direncanakan 27 adegan menjadi 42 adegan. Hal itu menurutnya merupakan kepentingan penyidik agar perkara tersebut bisa terang dan jelas.(Unt)

Read previous post:
Tak Pilih Korban

PERAMPOK biasanya akan beraksi ketika calon korbannya lengah. Misalnya korban sendirian dan suasana lingkungan sekitar sepi. Ini kesempatan bagi penjahat

Close