Dengan Briket Limbah, Kompor Lebih Aman dan Murah

MERAPI-SULISTYANTO
Adi menunjukkan contoh kompor berlabel ‘Komporakyat’ dengan bahan bakar briket limbah.

BAHAN bakar wujud briket dapat dibuat dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan dan peternakan. Ketika dibandingkan dengan kompor yang menggunakan gas elpiji, kompor menggunakan bahan bakar briket mempunyai beberapa keunggulan.

Hal ini diungkap Adi Wibowo dari Techno Park Indonesia yang cukup gencar mengenalkan kompor berbahan bakar briket limbah kepada masyarakat luas. Kompor berlabel Komporakyat pun bisa diterima berbagai kalangan, baik Komporakyat skala rumah tangga sampai untuk industri kecil-menengah. Keunggulannya antara lain, aman dan ramah lingkungan, tak mudah meledak dan harga kompetitif (murah).

“Durasi pembakaran volume tujuh jam membutuhkan briket 3,5 kilogram dengan harga pembelian briket Rp 14.000. Kalau menggunakan gas elpiji, durasi pembakaran volume tujuh jam membutuhkan gas tiga kilogram. Harga gas tiga kilogram rata-rata Rp 20.000,” ungkap Adi kepada Merapi, Senin (1/3).

Alumni Teknik Elektro UGM ini menambahkan, Komporakyat berbahan bakar briket limbah terlahir dari keprihatinan semakin mahalnya bahan bakar gas elpiji. Bahkan sering terjadi kelangkaan, sehingga perlu menciptakan bahan bakar alternatif yang lebih murah. Limbah dimanfaatkan untuk briket yang dicetak, berfungsi persis seperti arang kayu dan panasnya seperti arang. Dari ide tersebut, berkembang juga pembuatan briket menggunakan limbah kotoran ternak sampai aneka industri agro.

“Kami selalu berusaha untuk bisa melatih membuat briket dari limbah. Hanya saja sejak ada pandemi Covid-19, banyak dikurangi dulu. Tapi kami selalu mempunyai stok Komporakyat maupun briket. Saat ini harga Komporakyat skala rumah tangga kisaran Rp 300.000 perunit,” urainya.

Salah satu piranti Komporakyat, sebut Adi, ada semacam baling-baling atau kipas angin kecil. Sehingga tak perlu nepasi , bara api yang dikeluarkan oleh arang bisa selalu terjaga. Adapun pilar program Komporakyat berbahan briket, ada tiga yaitu pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan lingkungan. Pilar pendidikan, misalnya pihaknya berusaha rutin mengenalkan teknologi briket sebagai alternatif bahan bakar kepada masyarakat.

Pilar pemberdayaan ekonominya, antara lain sebagai usaha meningkatkan nilai sumberdaya limbah pertanian secara umum serta bagian pengembangan usaha di desa. Sedangkan pilar lingkungannya, antara lain bagian dari gerakan cinta lingkungan, pengembangan teknologi ramah lingkungan, pemanfaatan limbah organik serta mengurangi sumber energi dari fosil.

Adapun informasi lebih lanjut seputar Komporakyat, yakni dapat menghubungi no HP, 082138114915. Bahkan, pihaknya membuka pintu lebar-lebar untuk dapat menjualkan briket limbah maupun Komporakyat. Jika ingin membuat briketnya sendiri, secara garis besar, limbah dikumpulkan, lalu melewati tahap karboniser, ditambah tepung tapioka sebagai perekat, dicetak dan dikeringkan. (Yan)

Read previous post:
Guru Harus Perbaiki Metode Belajar Sekolah

BANTUL (MERAPI) - Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih meminta guru di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul untuk memperbaiki metode

Close