Enam Ekor Buaya Muara Dijual di Media Sosial

KRETEK (MERAPI)-Aparat Ditpolairud Polda DIY berhasil membongkar praktik jual beli satwa dilindungi, yakni buaya muara dan labi-labi. Enam pelaku dibekuk. Mereka dipergoki polisi menjual 6 ekor buaya dan 14 ekor labi-labi di media sosial facebook.
Dari keenam tersangka tersebut, empat di antaranya yakni RCH (25) warga Kasihan Bantul, RJS (24) warga Mlati Sleman, EKS (28) warga Pleret Bantul dan RYS (28) warga Triharjo Sleman ditahan dan menjalani proses hukum selanjutnya. Sementara dua pelaku yang masih di bawah umur yakni, RRL (17) warga Kasihan Bantul dan RR (17) warga Sabdodadi Bantul dapat diselesaikan melalui jalur diversi.
“Kami melakukan penangkapan terhadap para tersangka setelah adanya laporan masyarakat terkait jual beli hewan air yang dilindungi di media sosial. Kemudian tim cyber langsung bergerak dan menemukan enam pelaku yang memelihara dan memperjualbelikan hewan dilindungi tersebut,” ujar Wakil Direktur Ditpolairud Polda DIY, AKBP Azhari Juanda dalam konferensi pers di Mako Ditpolairud Polda DIY di Depok Parangtritis Kretek Bantul, Selasa (16/2).

Diterangkan, penanganan kasus tersebut dilakukan sejak Januari sampai Februari 2021. Penangkapan dan penetapan tersangka dilakukan setelah ditemukan alat bukti yang cukup terkait tindak pidana yang dilakukan para tersangka.
Dari tangan tersangka RRL, polisi menyita 1 ekor buaya muara sepanjang 110 cm, tersangka RCH diamankan 1 ekor buaya muara sepanjang 120 cm dan tersangka RJS disita 1 ekor buaya muara sepanjang 113 cm. Sementara dari tersangka RR disita buaya muara ukuran 178 cm dan dari tersangka EKS disita 1 ekor buaya muara sepanjang 138 cm. Untuk tersangka RYS petugas menyita 14 ekor labi-labi moncong babi berukuran kerapas 6 cm.
Menurut Azhari, selama ini para tersangka mendapatkan hewan dilindungi tersebut dengan cara membeli dari iklan yang ditawarkan di media sosial. Buaya muara terebut dibeli para tersangka mulai harga Rp 700 ribu hingga Rp 1,3 juta. Sementara untuk labi-labi dibeli dengan harga Rp 240 ribu per ekor.
Dari perbuatan itu para tersangka dijerat dengan pasal 40 ayat 2 jo pasal 21 ayat 2 huruf a UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelanggaran pasal tersebut akan dikenakan hukuman penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 100 juta.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, M Wahyudi menambahkan, penegakan hukum yang dilakukan diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat luas. Untuk itu masyarakat harus memahami satwa apa saja yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara dan diperjualbelikan.
Karena tidak semua hewan bisa dipelihara dan diperjualbelikan oleh masyarakat umum terutama satwa dilindungi kecuali sebuah penangkaran yang memiliki izin. “Memang ada satwa yang boleh dipelihara untuk menjaga kelestariannya tetapi harus punya izin penangkaran,” tegas Wahyudi.
Salah satu tersangka, RYS mengaku awalnya tidak tahu bila hewan labi-labi yang berbetuk seperti kura-kura termasuk dilindungi. Semula ia melihat bentuk labi-labi moncong babi sangat unik dan lucu sehingga mendorong dirinya untuk membeli dan mengoleksi.

“Pada mulanya saya melihat di medsos bentuknya unik dan lucu. Setelah pemiliknya menawarkan untuk dijual maka saya beli. Karena ternyata banyak peminatnya maka hewan itu pun saya perjualbelikan dan sayapun awalnya tidak tahu ternyata hewan itu sebagai salah satu satwa yang dilindungi,” tegas tersangka RYS.(Usa)

Read previous post:
Pemkot Yogya Klaim PPKM Sukes Tekan Penularan Covid-19

Close