TRAUMA ERUPSI 1994, WARGA TURGO PILIH DI PENGUNGSIAN-“Semua Orang Berteriak, Kentongan Dibunyikan”

SLEMAN (MERAPI)- Pasca guguran awan panas yang terjadi Rabu (27/1) kemarin, ratusan warga Turgo, Purwobinangun, Pakem memilih tinggal di barak pengungsian Watuadeg. Kebanyakan pengungsi trauma dengan semburan awan panas Merapi sehingga memilih tetap berada di barak pengungsian sementara waktu.
Salah satunya Marsiyam (44) warga RT 4 Turgo yang mengaku masih trauma dengan erupsi Merapi 1994. Erupsi Merapi kala itu merenggut nyawa kerabatnya cukup banyak. “Rumah saya berjarak 25 meter dari tebing sungai Boyong. Waktu awan panas Rabu kemarin yang pertama liat di warga RT 4. Saya pas di rumah, orang-orang lari keluar dan berteriak, kentongan juga dibunyikan. Semuanya langsung berkumpul ke SD Tritis,” ungkap Marsiyam saat ditemui di barak Watuadeg, Kamis (28/1).
Marsiyam bersama anak dan ibunya yang sudah jompo memilih berada di pengungsian sejak Rabu kemarin. Menurutnya, berada di pengungsian tetap nyaman karena sudah diberi sekat-sekat. “Kalau di rumah cuma makan apa adanya. Di sini malah diberikan fasilitas luar biasa. Ini lebih dari cukup,” tutur Marsiyam.

Marsiyam berharap, kondisi Merapi lekas normal. Karena selama status Merapi naik menjadi Siaga Level III, aktivitas penambangan yang menjadi sumber pendapatan warga juga ditutup. “Kami nunggu instruksi pemerintah yang lebih tahu. Kalau masih diminta tinggal di barak kami mengikuti,” beber Marsiyam.
Sementara itu Kepala Pelaksana Harian Unit Pelaksana Purwobinangun Nurhadi, data terakhir, jumlah pengungsi yang berada di barak pengungsian Watuadeg sebanyak 65 KK dengan jumlah 153 jiwa. Dengan rincian laki-laki sebanyak 76 orang, perempuan 77 orang, balita 36 orang, ibu hamil 1 orang, lansia perempuan 11 orang dan lansia laki-laki 15 orang. “Untuk jumlah total warga di RT 1 hingga 4 sekitar 400an. Tapi tidak semua warga mengungsi, warga RT 1 dusun Tritis masih banyak yang di atas. Diprioritaskan warga di RT 2, 3 dan 4 karena dekat dengan bibir Sungai Boyong,” kata Nurhadi kepada wartawan, Kamis (28/1).

Nurhadi menyatakan, warga yang berdekatan dengan bibir sungai diprioritaskan mengungsi karena Sungai Boyong menjadi jalur lahar atau guguran awan panas. Sebagian warga, lanjut Nurhadi, masih banyak yang naik untuk mencari rumput atau membawa tambahan baju ganti. Namun sesuai kesepakatan, warga yang pulang ke rumah dijemput pukul 10.00.
Setelah barak Watuadeg diaktifkan, relawan yang bertugas juga langsung diperiksa swab antigen. Hal ini untuk memastikan kondisi kesehatan relawan tidak terpapar Covid-19. Selain itu, relawan yang bertugas juga dibatasi relawan dari Kalurahan saja. “Untuk njagani semua. Turgo juga masih berstatus zona hijau,” tandas Nurhadi.

Untuk menyaring warga yang naik, Nurhadi mengungkapkan, portal untuk masuk ke Turgo selalu dijaga petugas. Hal ini bertujuan menyaring kemungkinan warga luar Turgo yang hendak naik. “Masih ada warga yang naik khususnya bapak-bapak,” imbuh Nurhadi.
Terkait ternak, lanjut Nurhadi, belum dievakuasi. Hal tersebut masih dikoordinasikan dengan Pemkab Sleman. Namun barak untuk ternak nantinya akan disiapkan di tempat relokasi. “Kandang relokasi bisa menampung 100 ternak. Jumlah ternak di Turgo 100 sapi dan 400 ekor kambing 400. Relokasi rencana berada Dusun Sudimoro,” tutup Nurhadi.(Tiw)

Read previous post:
Memuliakan Sesama Makhluk

KITA sebagai manusia pantas bersyukur ke hadhirat Allah SWT karena diciptakan menjadi makhluk yang sempurna dan memiliki kelebihan dari semua

Close