Usai Berpesta di Yogya, 4 Perampok Uang Rp 563 Juta Ditembak


SEMARANG (MERAPI)- Lima dari enam anggota komplotan perampok berpistol yang menggondhol uang Rp 563 juta di Semarang berhasil diringkus. Empat pelaku ditembak dalam sebuah penyergapan di Jawa Barat, Kamis (21/1). Usai menggasak uang setengah miliar rupiah pada Senin (18/1) lalu itu, para pelaku sempat kabur berwisata dan berpesta ke Yogya.
“Mereka rencananya akan pulang ke daerah asalnya di Lampung sebelum kami amankan. Di Semarang, satu pelaku yang berperan sebagai sebagai juru gambar lokasi kemudian dibekuk,” ujar Direktur Reskrim Um Polda Jateng Kombes Pol Wihartomo pada gelar kasus di Polda Jateng, Jumat(22/1) siang.
Wihartomo menjelaskan, kelima pelaku yang diamankan adalah Rahmad (52), Vidi Kondian (21), Fran Panjaitan (43) dan Maftufi (26) semuanya asal Bumi Jaya, Lampung Tengah dan Moch Agus Irawan (41) warga Jalan Muria Tengah III Bandarjo, Ungaran. Satu pelaku diketahui masih buron, yakni Sus (39) asal Semarang.

Dari tangah pelaku, polisi menyita tiga pucuk pistol rakitan, sejumlah peluru, satu mobil rental Daihatsu Sigra, dua motor serta uang tunai tidak kurang dari Rp 200 juta. “Salah satu barang bukti motor hasil pencarian di Semarang Barat dan satunya didatangkan dari Lampung,” jelasnya.
Kombes Pol Wihartomo mengatakan, keberhasilan meringkus para pelaku berkat kerja sama antara Dit Reskrim Um Polda Jateng dengan Polrestabes Semarang. “Saya sangat mengapreasi kerja sama ini, sehingga komplotan perampok berpistol di Semarang dalam waktu singkat berhasil dibekuk di Cimahi,” ungkap Kombes Pol Wihastomo yang didampingi Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar dan Kasat Reskrim AKBP Indra Mardiana.
Seperti diketahui, aksi perampkan itu terjadi pada Senin (18/1) lalu.
Awalnya korban Teguh Murtiono yang merupakan karyawan distributor elpiji bermansuk pulang ke kantornya usai mengambil uang setoran di SPBU Karangjati, Kabupaten Semarang. Jelang siang, dia tiba di depan kantornya di Jalan Krakatau VIII, Barito Karang Tempel, Semarang. Saat turun dari mobil, dia langsung dipepet empat orang pelaku berboncengan motor. Pelaku kemudian merampas tas berisi uang Rp 563 juta dan meletuskan tembakan untuk menakuti korban. Usai kejadian itu, para pelaku kabur.

Wihastomo mengakui aksi perampokan itu memang melibatkan orang dalam. Adegan perebutan tas disertai tembakan itu terekam kamera CCTV di sekitar lokasi kejadian. Berkat rekaman CCTV itulah polisi berhasil mengidentifikasi para pelaku.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar menambahkan, komplotan pelaku setelah berhasil merampas uang ratusan juta rupiah kemudian menuju Banyumanik, Semarang dan berkumpul dengan dua pelaku lain, yang merupakan orang dalam. Kemudian, para pelaku ganti kendaran roda empat sewaan menuju Salatiga kemudian ke Yogyakarta. Mereka membagi hasil rampokan, dengan tiap orang menerima Rp 90 juta. Di Yogya, mereka lalu berpesta di sebuah objek wisata. “Pesta berlangsung dua hari,” ujarnya. Mereka tak sadar jika sudah teridentifikasi dan diburu polisi.
Kemudian, empat pelaku asal Lampung meneruskan perjanan ke Jawa Barat, sedangkan dua lainnya pulang Semarang.

Keempat pelaku menumpang mobil rental berencana menyeberang ke daerah asalnya di Lampung. Namun, nasib berbicara lain. Saat sampai di Jawa Barat, mereka digrebek anggota Resmob Polrestabes Semarang dipimpin Iptu Reza Arif Hadafi. Mengingat para pelaku membawa pistol rakitan, maka petugas melakukan tindakan keras melumpuhkan dengan menembak kaki mereka masing-masing. “Para pelaku bersenjata api dan sangat membahayakan petugas maupun masyarakat. Oleh karena dengan tindakan terukur mereka kita lumpuhkan dengan tembakan pada kaki,” ujar Kombes Pol Irwan.
Dikatakan, mengingat para pelaku membawa senjata api, maka kuat dugaan mereka beraksi di tempat lain. Kapolrestabes Semarang menambahkan perkenalan antara pelaku yang merupakan kelompok Lampung dengan pelaku asal Semarang bermula dari pertemanan di tempat bekerja. Salah satu pelaku asal Semarang sebelum bekerja di kantor distributor elpiji pernah membuka usaha panti pijat. Dan, salah satu pelaku, Frans adalah pegawai panti pijat itu.
Tersangka Frans mengakui terus terang perbuatannya. “Pelaku memiliki pistol rakitan beserta pelurunya dengan membeli Rp 15 juta di daerah asalnya Lampung. Kasus ini masih terus dikembangkan,” tandasnya.(Sky)

Read previous post:
MENGUAK MISTERI PULUNG, PETUNJUK DARI LANGIT (1) – Ratu-binathara Memiliki Tiga Macam Wahyu

Pilkada adalah bentuk modern dari suatu sistem kepemimpinan, di mana pemimpin dipilih secara langsung oleh rakyatnya sendiri dengan suara terbanyak.

Close