Warga Rawan Bencana Disarankan Ikut Transmigrasi

WATES (HARIAN MERAPI) – Warga Kulonprogo yang tinggal di daerah rawan bencana disarankan untuk mengikuti program transmigrasi. Program yang terus digencarkan pemerintah ini diyakini mampu memperbaiki kehidupan masyarakat terutama pada sektor perekonomian.

Kepala Bidang Transmigrasi, Disnakertrans Kulonprogo, Heri Widada mengatakan, pada tahun ini pihaknya akan melakukan sosialiasi atau komunikasi informasi edukasi kepada masyarakat terkait program transmigrasi. Sosialisasi sebanyak 10 kali selama satu tahun tersebut akan fokus kepada warga yang tinggal di lokasi lokasi rawan bencana.

“Kami bekerjasama dengan BPBD Kulonprogo terkait datanya,” kata Heri, Kamis (21/1).

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan sosialisasi program transmigrasi juga digelar di daerah non rawan bencana. Daerah yang sebelumnya sudah ada pendaftar juga akan disasar. “Semua potensi akan kami sasar sosialisasi,” imbuhnya.

Heri menyebut, kuota calon transmigran (catrans) tahun anggaran 2020 dari Kulonprogo yang akan dikirim ke sejumlah daerah di luar Jawa masih belum terpenuhi. Pada 2020, Kulonprogo mendapat kuota catrans sebanyak 15 Kepala Keluarga (KK) yang akan ditempatkan di Bulungan Kalimantan Utara sebanyak 2 KK, Mahalona Sulawesi Selatan 4 KK, Sidrap Sulawesi Selatan 5 KK dan Muna Sulawesi Tenggara 5 KK.

“Namun dalam perjalanan, wilayah Sidrap dibatalkan karena tidak ada pembangunan permukiman sehingga kuota yang tersedia hanya 10 KK. Adapun dari 10 itu, baru terisi 9 KK. Itupun tidak sesuai dengan kuota karena ada tempat yang kelebihan pendaftar ada pula yang kekurangan,” jelasnya.

Heri mengungkapkan, wilayah Muna juga sepi peminat karena lokasinya tidak terlalu menarik jika dibandingkan dengan Bulungan dan Mahalona. Untuk Bulungan cukup strategis karena lokasinya dekat dengan ibu kota provinsi. Sementara di Mahalona terdapat komoditas lada. Cukup banyak transmigran asal Kulonprogo berhasil meraih kesuksesan di Mahalona karena menanam lada dengan hasil panen tinggi.

Sedangkan wilayah Muna, tidak diminati karena tanaman yang bisa dikembangkan di sana hampir mirip dengan yang ada di Kulonprogo seperti padi, jagung dan ketela. Meski demikian, bukan berati transmigran di Muna tidak bisa meraih kesuksesan. Cukup banyak pula transmigran yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

“Kami akan terus melakukan sosialisasi. Program transmigrasi merupakan peluang bagi masyarakat yang ingin menyongsong masa depan lebih maju dan sejahtera. Semua fasilitas di sana diberikan gratis oleh pemerintah, mulai dari rumah, lahan usaha, bantuan sarana pertanian, bantuan modal dan jatah hidup,” kata Heri.

Salah satu transmigran asal Kulonprogo yang kini tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat, Supri mengatakan, kehidupannya berubah lebih baik setelah mengikuti program transmigrasi pada 2018 lalu. Jika sebelumnya serba kekurangan, saat ini menjadi berkecukupan.

“Saya sekarang bertani dan nanam sawit. Kehidupan saya menjadi lebih baik,” kata Supri. (Unt)

Read previous post:
Stok Bahan Mentah Habis, Bantuan Isolasi Mandiri Diganti Nasi Kotak

Close