TEBING BATU LONGSOR TIMPA 3 RUMAH DI DLINGO-Selamatkan Istri, Tahan Lemari Ambruk Pakai Punggung

MERAPI (DLINGO)- Tebing batu setinggi 20 meter di Dusun Nglingseng, Muntuk, Dlingo, Bantul longsor dan menimpa tiga rumah warga, Selasa (19/1) petang. Material longsor berupa batu berukuran cukup besar itu mengakibatkan dua keluarga di RT 6 harus mengungsi. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, karena penghuni rumah berhasil selamat meski sempat tertimpa bangunan rumahnya.
Menurut keterangan, longsor terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah perbukitan tersebut. Salah satu anggota forum pengurangan risiko bencana (FPRB) Muntuk, Giyono menyebut longsor terjadi sekitar pukul 4 sore. Sejak siang hari, hujan sudah mengguyur kampung perbatasan Imogiri-Dlingo tersebut. Derasnya hujan disertai angin itu menimbulkan aliran air di sekitar tempat tinggal warga. Longsor pun terjadi sepanjang hampir 30 meter yang berada tepat di belakang tiga rumah tersebut. Tiga rumah yang diterjang longsor dihuni oleh dua kepala keluarga, yakni Amirudin (45) yang tinggal bersama istri dan dua anaknya serta rumah milik Muridan (40) yang tinggal di rumah paling timur. Sedangkan satu rumah lainnya ditinggali oleh dua orang anak Muridan. “Pas di atas tebing itu ada satu rumah lagi, milik Pak Rojani, ikut mengungsi juga karena khawatir longsor susulan,” ungkapnya.

Giyono menjelaskan, batuan tebing itu menurutnya berjenis batu padas. Batu itu longsor mengikuti garis retakan batu. Jika melihat bekas longsoran dan kondisi sekitar lokasi, Giyono mengatakan retakan batuan itu merupakan resapan air. Di antara retakan bebatuan mengalir air dari dalam tanah. “Kalau orang sini mengatakan rembesan, seperti mata air tapi kecil dan hanya keluar setelah hujan,” terangnya.
Rabu (20/1) pagi kemarin, ratusan warga dibantu Polisi, TNI, dan relawan melakukan pembersihan material longsoran. Namun begitu menurut Giyono pembersihan akan memakan waktu cukup lama melihat banyaknya material longsor. Selain itu pihaknya masih bingung akan membuang kemana batu-batu tersebut. Selain sulit diangkat karena ukurannya, dia khawatir jika bebatuan itu justru akan memicu longsor lainnya. “Kampung di sini kan perbukitan, kalau tidak hati-hati malah bisa tidak kuat menahan batu itu dan longsor lagi,” cemasnya.

Sementara, salah satu korban longsor, Muridan mengaku bingung harus sampai kapan dia menungsi. Dia menceritakan sebelum longsor terjadi ayah dua anak ini sedang menganyam bambu di teras rumah, sedangkan istrinya tiduran di kamar samping dapur. Karena hujan bertambah deras, maka dia pun masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama, dia mendengar suara gemuruh dari begaian belakang rumahnya. “Gemuruh itu, lalu dekat kamar dan gebyok ambruk, yang bagian dapur rata tanah,” sebutnya.
Muridan sempat tertimpa bagunan dari kayu tersebut. Sekat kamar dan sebuah almari yang menimpa ditahan menggunakan punggungnya, supaya tidak menimpa istrinya yang sedang tertidur. Setelah istrinya berhasil menyelamatkan diri, Muridan kemudian keluar rumah. Saat itu dia melihat rumah yang baru dibangunnya enam bulan lalu itu sudah miring dan beberapa bagian porak poranda. “Saya ambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan, kalau yang sudah tertimbun saya pasrah,” pungkasnya. (C1)

Read previous post:
KASUS CORONA DI YOGYA MASIH TINGGI-Langgar Jam Buka, 28 Warung di Bantul Ditutup Sementara

Close