300 KK DI KALIURANG TERDAMPAK-Lahar Hujan Merapi Terjang Pipa Air Kali Boyong

SLEMAN (MERAPI) – Lahar hujan Gunung Merapi mulai muncul dan mengakibatkan sebagian pipa jaringan air di Sungai Boyong, Kaliurang Barat, Hargobinangun, Pakem, Sleman mengalami kerusakan. Paling tidak ada sebanyak 300 Kepala Keluarga (KK) yang ada di 6 RT di Dusun Kaliurang Barat terdampak dan harus mendapatkan dropping air bersih.
Menurut Panewu Pakem Suyanto, 300 KK yang terdampak berasal dari beberapa RT. Yakni RT 3, 4,5, 6, 7 dan 8. Untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga terdampak, Pemerintah Kabupaten Sleman dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman telah melakukan dropping air bersih sejak 7 Januari kemarin. “Dropping air mulai dilakukan sejak tanggal 7 Januari kemarin. Dropping air ini khusus untuk keperluan warga, tidak untuk ternak,” kata Suyanto, Senin (18/1).

Suyanto menerangkan, perbaikan pipa telah dilakukan sejak minggu lalu. Sehingga saat ini semua pipa jaringan sudah tersambung. Sedangkan untuk dropping air nantinya akan dihentikan ketika aliran air sudah lancar. “Minggu kemarin sebagian jaringan pipa sudah diperbaiki,” tandas Suyanto.
Sementara itu Kabid Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Makwan mengungkapkan, dalam sehari, BPBD mengirimkan sebanyak 4 tangki air untuk warga terdampak. Dropping ini masih akan dilakukan sampai perbaikan selesai. “Sampai perbaikan selesai, dan masih memungkinkan melihat kondisi gunung,” imbuh Makwan.
Sementara itu, ada perubahan rekomendasi Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) terkait potensi bahaya Merapi. Namun hingga saat ini kelompok rentan di Dusun Kalitengah Lor, Cangkringan, Sleman masih berada di Barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan. Sesuai rekomendasi BPPTKG, potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapar menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.

Panewu Cangkringan Suparmono menerangkan, meskipun potensi bahaya Merapi sudah berubah, para pengungsi di Barak Glagaharjo tidak serta-merta langsung bisa dipulangkan. Pihaknya, masih menunggu arahan dan instruksi dari Pemerintah Kabupaten Sleman terkait berubahnya potensi bahaya Merapi. “Rencana besok (19/1) baru akan dilakukan rapat koordinasi terkait hal tersebut,” terang Suparmono Senin (18/1).
Menurut Suparmono, hingga Minggu (17/1) malam, total pengungsi yang ada di Barak pengungsian Glagaharjo sebanyak 187 orang. Dengan rincian 59 lansia, 79 dewasa, 24 anak-anak, 2 balita, 5 bayi, 2 ibu hamil, 5 ibu menyusui dan 11 disabilitas. Sedangkan pada Sabtu (16/1), total pengungsi masih mencapai 268 orang. Terdiri dari 67 lansia, 114 dewasa, 47 anak-anak, 1 balita, 13 bayi, 3 ibu hamil, 15 ibu menyusui, dan 10 disabilitas.

Suparmono mengatakan, hingga saat ini memang banyak pengungsi yang pulang. Kebanyakan dari kelompok usia dewasa dan anak-anak. Meskipun potensi bahaya Merapi saat ini berubah, Suparmono tetap mengimbau agar masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan. “Status Merapi masih siaga level III, masih ada kelompok rentan dari Dusun Kalitengah Lor yang mengungsi. Selain itu belum ada, pengungsi hanya dari Dusun Kalitengah Lor saja,” tutur Suparmono.
Sementara itu, Kasi Mitigasi Bencana BPBD Kabupaten Sleman Djokolelana mengungkapkan, pihaknya juga mewaspadai adanya potensi banjir lahar dingin. Karena banyaknya material endapan dan adanya hujan intensitas tinggi di puncak atau lereng Merapi. Oleh sebab itu, pihaknya mulai menyiagakan pemantau-pemantau sungai. “Kami menyiagakan pemantau-pemantau sungai, sehingga mendukung sistem EWS (Early Warning System) yang ada,” tandas Djoko.(Tiw)

Read previous post:
Gandeng Banser Tanggap Bencana, JNE Peduli Distribusikan Bantuan untuk Pengungsi Merapi

JNE memberikan bantuan logistik untuk warga sekitar Gunung Merapi yang tinggal di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (16/1). Penyaluran

Close