Ikan Air Tawar Butuh Lumpur untuk Sehatkan Pencernaan

KETIKA memelihara ayam maupun burung dan banyak dikandangkan, umumnya di bagian dalam kandang diberi pasir, kerikil kecil-kecil maupun tumbukan batu bata merah. Secara berkala, satwa tersebut biasa memakan bahan alami tersebut, sebab mampu mendukung kesehatan sistem pencernaan.

Menurut praktisi pembudidaya ikan air tawar serta hias, Jazari, ikan air tawar pun perlu memakan sesuatu yang mampu mendukung kesehatan sistem pencernaan. Satu di antaranya berwujud lumpur, sehingga kolam ikan yang terbuat dari terpal sampai bak kolam dari semen perlu diberi lumpur di bagian dasar. Meski lumpur yang dimakan sekadarnya dan dalam waktu-waktu tertentu, ia meyakini akan mampu mendukung sistem pencernaan ikan.

“Jadi ketika memelihara ikan air tawar, misalnya di bak kolam yang diplester menggunakan campuran semen dan pasir maupun di kolam terpal, sebaiknya diberi lumpur,” tandas Jazari kepada <I>Merapi<P>, Kamis (14/1).

Manfaat lain dengan adanya lumpur, lanjutnya, akan menciptakan suasana alami dan ikan-ikan merasa lebih nyaman. Bahkan di dalam lumpur juga sering muncul beberapa renik-renik ataupun pakan alami kecil-kecil yang bisa dimakan ikan. Tak kalah penting, jenis ikan air tawar seperti nila, gurami, patin dan bawal secara berkala perlu juga diberi pakan hijauan. Dengan kata lain, tak hanya diberi pakan buatan pabrik saja wujud pelet.

“Hijauan berwujud dedaunan ataupun rumput lunak cukup banyak yang disenangi ikan. Bahkan sayur limbah dari dapur, warung makan maupun pasar juga bisa diberikan. Jenis hijauan dan sisa dari dapur, misalnya daun singkong, pepaya, senthe, kangkung, sawi dan seledri,” urainya.

Ditambahkan, hal penting lain untuk mendukung kesehatan ikan secara umum, yakni soal kualitas air. Mayoritas ikan membutuhkan kolam yang sirkulasi airnya baik, yaitu ada air yang masuk ke kolam serta ada yang keluar kolam. Lancarnya sirkulasi air akan berperan juga tersedianya stok oksigen. Suatu hal wajar jika stok oksigen minim, untuk meningkatkannya perlu memakai kincir air ataupun dengan memasang piranti aerator.

“Saat musim penghujan, kualitas air kolam yang banyak terkena air hujan biasanya tingkat asamnya tinggi. Guna membantu menetralkannya, biasa ada yang menabur garam krosok secara berkala di kolam,” ungkap Jazari.

Sedangkan imbas dari pandemi Covid-19, sebutnya, terutama sangat berpengaruh terhadap menurunnya transaksi jual beli gurami konsumsi. Alasannya antara lain, konsumen di rumah-rumah makan penyedia masakan gurami banyak mengalami penurunan. Ada lagi pihak katering dan orang-orang yang punya hajatan juga banyak berkurang yang membuat masakan berbahan gurami. Lain halnya dengan jenis ikan lele, nila, patin dan bawal banyak dibutuhkan mulai dari warung makan sederhana serta warung-warung tenda seperti pecel lele. (Yan)

Read previous post:
Haryadi Suyuti
WFH 75 Persen Selama PTKM, Pelayanan Publik Dipastikan Tetap Berjalan

Close