Lava Pijar Muncul di Puncak Merapi


UMBULHARJO (MERAPI)-Sejak ditetapkan berstatus Siaga (level III) sejak 5 November 2020, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas vulkanik Gunung Merapi terus meningkat. Dari hasil pengamatan pada Senin (4/1) malam terpantau guguran lava pijar dari sisi barat daya Gunung Merapi.
“Peningkatan aktivitas terlihat pada Senin malam (4/1) pukul 19.52 WIB, di mana terjadi guguran yang terpantau dari kamera CCTV di sisi barat daya Gunung Merapi. Video dari CCTV mode <I>nightview<P> menampilkan pendaran sinar yang diduga adalah lava pijar,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, dalam video telekoferensi, Selasa (5/1).
Dia menyampaikan, hasil pengamatan ini didukung dengan foto DSLR dan foto dari Pos Kaliurang yang menunjukkan rona merah di lokasi yang sama. Termasuk hasil pengamatan kamera thermal di stasiun Panguk. Bertepatan dengan pengamatan kejadian tersebut, jaringan seismik Gunung Merapi BPPTKG merekam gempa guguran pukul 19.50 WIB dengan amplitudo 33 mm dan durasi 60 detik. Suara guguran terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan.

“Kami menyimpulkan lava pijar telah muncul di dasar Lava 1997. Sinar yang teramati sebelumnya pada tanggal 31 Desember 2020 pukul 21.08 WIB, bisa jadi merupakan indikasi awal akan munculnya api diam dan lava pijar,” paparnya.
Dia menyebut guguran lava pijar masih terus terjadi. Intensitas guguran menjadi indikator adanya aktivitas magma yang menuju ke permukaan. Sejak Senin (4/1) malam guguran lava pijar tercatat sekitar 40 guguran. Saat ini, lanjutnya, tingkat aktivitas vulkanik masih tinggi seperti gempa fase banyak, gempa vulkanik dangkal dan laju deformasi EDM (Electronic Distance Measurement) atau penggembungan tubuh gunung juga tinggi.
“Bisa dikatakan Gunung Merapi memasuki fase erupsi tahun 2021. Namun ini baru awal indikasi proses ekstrusi magma yang akan terjadi berdasarkan data seismik dan deformasi yang masih tinggi. Dari hasil pengamatan citra satelit juga mengkonfirmasi keberadaan gundukan yang diduga adalah material baru. Sebagian material mengalami longsor bersama material lama,” jelas Hanik.

Dia menjelaskan dari hasil pengamatan juga ada pengangkatan di daerah puncak di kawah Merapi yang mengakibatkan sebagian mengalami longsor dengan arah cenderung di barat daya. Gundukan yang diduga material baru itu berada di tebing bibir kawah sehingga saat ada guguran langsung runtuh. Gundukan itu akan dipantau karena jika berkembang terus bisa menjadi kubah lava baru.
“Runtuhan lava pijar yang muncul sekitar 150 meter, sehingga masih jauh dan belum ada ancaman ke pemukiman penduduk. Kami belum merevisi rekomendasi aktivitas Gunung Merapi dengan daerah potensi bahaya masih dalam jarak maksimal 5 km dari puncak Gunung Merapi. Masih ada kemungkinan erupsi eksplosif maka rekomendasi kami tetap belum berubah saat status masih siaga,” terangnya.
Dijelaskan, Pemkab Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten diminta mempersiapkan segala sesuatu terkait mitigasi bencana akibat erupsi Gunung Merapi. Selain itu penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam Kawasan Rawan Bahaya (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan. Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi. Termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.(Tri)

Read previous post:
Asap Keluar dari Tanah Hebohkan Warga Karanganyar

Close