Magma Terus Bergerak, Rekahan di Kawah Merapi Makin Berkembang


UMBULHARJO (MERAPI)- Sejak ditetapkan status Siaga level III pada 5 November 2020, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas Gunung Merapi fluktuatif tinggi. Berdasarkan pengamatan morfologi, rekahan-rekahan di dalam dan tebing kawah makin berkembang. Tapi rekahan-rekahan itu belum secara nyata mengancam aktivitas penduduk.
“Secara mingguan data pemantauan seismik dan deformasi menunjukkan sedikit penurunan namun masih fluktuatif tinggi. Belum ada penurunan signifikan,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Jumat (11/12)
BPPTKG mencatat pada 4-10 Desember 2020, ada 232 gempa vulkanik dangkal (VTB), 1.692 gempa fase banyak, 5 gempa low frekuensi, 256 gempa guguran, 209 gempa hembusan dan 2 gempa tektonik. Pada pekan lalu gempa VTB mencapia 236 dan 2.128 gempa fase banyak.

“Naik turunnya aktivitas Gunung Merapi, sesuatu hal yang biasa. Dalam artian untuk Gunung Merapi yang mengalmi aktivitas,” ujarnya.
Sedangkan data morfologi dari pengamatan melalui satelit pada 2 Desember 2020 terjadi pengangkatan di permukaan kawah, terbentuk rekahan-rekahan di dalam dan tebing kawah semakin melebar dan perubahan morfologi akibat intensifnya kejadian guguran. Dia menuturkan, rekahan-rekahan di puncak menunjukan adanya gerakan magma terus menerus ke permukaan yang berdampak material akan runtuh. Dia menyebut rekahan-rekahan di dalam kawah berkembang dari semula 65 meter menjadi 120 meter.

“Rekahan yang ada memanjang dan melebar. Rekahan yang ada berkembang. Ada juga rekahan-rekahan baru. Rekahan-rekahan ini adalah dampak adanya desakan-desakan dari dasar magma. Rekahan ini dampaknya guguran ada yang bisa lebih panjang. Tapi tidak berdampak langsung mengancam masyarakat,” jelas Hanik.
Dia menyatakan wilayah barat-barat laut menjadi wilayah yang berpotensi terancam bahaya erupsi berdasarkan data deformasi dan perubahan morfologi lereng di sektor itu. Arah guguran lava dominan ke arah Kali Senowo, Kali Lamat dan Kali Gendol dengan jarak maksimal 3 kilometer untuk Kali Lamat. Dari hasil pemantauan BPPTKG, sampai kini tidak teramati material atau kubah lava baru.
Berdasarkan data BPPTKG jeda waktu antar status Gunung Merapi dari Siaga ke Awas saat erupsi. Pada erupsi 2001 jeda waktu status Siaga ke Awas 1 bulan. Erupsi 2006 status Siaga ke Awas 1 bulan. Erupsi 2010 status Siaga ke Awas 5 hari. BPPTKG memperkirakan jika terjadi erupsi eksplosif kemungkinan tidak sebesar erupsi 2010. Tapi diperkirakan lebih besar dari erupsi 2006.

“Lamanya aktivitaas ini memerlukan kesabaran. Harus kita lalui karena karakter Merapi satu erupsi dengan erupsi yang lain berbeda. Jadi kami terus pantau aktivitas Gunung Merapi. Saat ini masih fluktuatif tinggi sehingga potensi bahaya masih sama saat status dinaikan menjadi Siaga,” tandasnya.(Tri)

Read previous post:
Ditantang Duel, Cah Klitih Bawa Gergaji Raksasa

Close