POSITIF COVID-19 TAMBAH 157-Heroe Bantah Hoaks Ruang Perawatan Pasien Corona Penuh

YOGYA (MERAPI)-Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi membantah beredarnya pesan informasi melalui aplikasi WhatsApps (WA) terkait penundaan kunjungan ke Kota Yogyakarta karena kapasitas ruang perawatan Covid-19 di Yogya penuh. Dia menegaskan Pemkot Yogyakarta tidak menutup kunjungan wisatawan.
Dia juga menuturkan dari pihak UGM sudah membantah beredarnya informasi tidak benar yang juga mengatasnamakan satgas Covid perguruan tinggi negeri itu. Dia menilai informasi yang beredar di WA itu sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mengingatkan isi pesan yang disampakan tidak sesuai fakta.
“Saya kira itu perbuatan orang-orang yang tidak jelas siapa yang mengirim (awalnya). Faktanya tidak seperti itu. Kamar masih tersedia baik ICU maupun isolasi pasien Covid-19. Shelter juga masih tersedia kamarnya,” kata Heroe, Jumat (11/12).
Dia menyebut shelter isolasi posotif Covid-19 tanpa gejala di Kota Yogyakarta kini terisi berkisar 25-30 kamar dari kapasitas total 84 kamar. Sedangkan dari tempat-tempat wisata dan askes wisatawan ke Yogyakarta juga tidak ditutup. Untuk itu Pemkot Yogyakarta mempersiapkan diri terhadap kedatangan wisatawan dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Artinya sebenarnya karena sudah jelas kami tidak menutup kota Yogyakarta untuk wisatawan. Maka mau tidak mau harus mempersiapkan diri dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat,” tambah Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta itu.
Menurutnya beredarnya pesan tidak benar itu ingin menunjukkan kesan Yogyakarta berat dalam menangani Covid-19. Padahal informasi yang disampaikan tidak sesuai fakta dan tidak jelas sumbernya. Dia menyebut sampai kini Kota Yogyakarta masih zona oranye atau risiko sedang.
“Itu jadi pemicu bagi kami untuk menunjukkan Yogyakarta tidak seperti itu. Sebagai pengingat kami di manapun tempatnya harus menyiapkan diri untuk menerima wisatawan,” pungkas Heroe.
Sementara itu penambahan kasus positif corona di Yogya masih tinggi. Buktinya, Pemda DIY melaporkan penambahan 157 kasus positif Covid-19 di Yogyakarta pada Jumat (11/12). Jumlah itu berdasarkan hasil pemeriksaan dari 1281 sampel dan 1169 orang. Hingga kini total kasus positif Covid-19 di Yogyakarta sebanyak 7.769 kasus.
Juru bicara Pemda DIY untuk penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih mengatakan, distribusi kasus terdiri dari 27 warga Kota Yogyakarta, 43 warga Bantul, 9 warga Kulonprogo, 16 warga Gunungkidul, dan 62 warga Sleman.

“Distribusi kasus terdiri dari 46 kasus periksa mandiri, satu kasus screening karyawan kesehatan, 72 kasus hasil tracing kasus sebelumnya, dan 38 kasus belum ada keterangan,” jelasnya.
Di sisi lain dilaporkan jumlah kasus sembuh sebanyak 116 kasus sehingga total kasus sembuh sebanyak 5.382 kasus, terdiri dari 18 warga Kota Yogyakarta, 52 warga Bantul, delapan warga Kulonprogo, satu warga Gunungkidul, dan 37 warga Sleman.
“Dilaporkan tiga kasus meninggal sehingga total pasien meninggal sebanyak 165 kasus,” imbuhnya.
Tiga kasus meninggal terdiri dari kasus 2.122, perempuan usia 68 tahun warga Bantul, kasus 4.300 laki-laki usia 72 tahun warga Bantul, dan kasus 5.737 perempuan usia 59 tahun warga Bantul.
Di Bantul, aparat gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP DIY bersama aparat kepolisian maupun TNI melakukan razia masker di Jalan Parangtritis depan parkir Taman Wisata Gabusan Sewon Bantul, Jumat (11/12).

Dari razia tersebut ditemukan banyak pengendara motor maupun mobil tidak mengenakan masker. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk memakai masker ketika berada di luar rumah masih rendah.
“Kami melakukan razia atau operasi penegakkan disiplin dan hukum terhadap pelanggar protokol kesehatan terutama pemakaian masker. Bagi yang melanggar tidak memakai masker atau memakai masker tidak benar akan didata selanjutnya kita tegur dan kita bina,” ujar Koordinator Razia, Drs Wahadi kepada wartawan di sela-sela kegiatan.
Selain itu, kata dia, bagi pelanggar protokol kesehatan tersebut akan diberikan sanksi sosial seperti menyapu, mengucap teks Pancasila hingga melakukan push up. Sanksi tersebut diharapkan akan menumbuhkan kesadaran untuk selalu mengenakan masker di manapun berada.
Dia menjelaskan langkah tersebut sebagai upaya penegakan Pergub DIY No 77 Tahun 2020 dengan sasaran perorangan atau pelaku usaha yang tidak menerapkan protokol kesehatan di saat tanggap darurat Covid-19 seperti saat ini.
“Untuk perorangan yang melakukan pelanggaran protokol kesehatan dengan tidak memakai masker akan kami berikan sanksi sosial. Sementara bagi pelaku usaha bila pelanggaran dilakukan berulang dan tidak bisa dibina maka izin usaha dapat dicabut,” tegasnya. (Tri/C-4/Usa)

Read previous post:
Kasus Bayi Stunting di Yogya Masih Tinggi

Close