Siswa di Gunungkidul Terpapar Corona, Pemkot Yogya Waspada

YOGYA (MERAPI)-Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta masih melengkapi semua sarana protokol kesehatan untuk mendukung pembelajaran tatap muka terbatas. Setiap sekolah juga sudah diminta membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 untuk memastikan dan memantau pelaksanaan protokol kesehatan. Pemkot terkesan hati-hati lantaran ada temuan siswa terpapar corona di Gunungkidul.
“Seluruh SD, SMP dan TK negeri kami lengkap semua fasilitas sarana prasarana agar siap jika sewaktu-waktu dilaksanakan pembelajaran secara terbatas. Semua sekolah harus memenuhi dulu sarananya,” kata Kepala Disdik Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori, Jumat (27/11).

Dia menyampaikan, sarana prasarana yang dilengkapi di antaranya pemasangan tempat cuci tangan atau wastafel, thermogun, alur masuk dan keluar serta tanda jaga jarak. Pemkot Yogyakarta memberikan bantuan operasional daerah (bosda) khusus untuk pengadaan sarana prasarana protokol kesehatan dengan pagu sekitar Rp 2,5 miliar dari APBD Perubahan tahun 2020.
“Wastafel dipasang di pintu gerbang, tiap ruang kelas dan kamar mandi atau toilet. Satgas Covid-19 juga dibentuk di tiap sekolah,” ujarnya.
Meski demikian pihaknya belum dapat memastikan apakah kegiatan belajar mengajar tatap muka terbatas di sekolah akan dibuka di awal semester genap pada awal Januari 2020. Pihaknya mengatakan, keputusan pembukaan sekolah tatap muka terbatas menjadi kebijakan Pemkot Yogyakarta. Sosialisasi terkait petunjuk teknis dan syarat sekolah tatap muka, lanjutnya, juga belum disampaikan ke sekolah.

Dia menjelaskan, di Kota Yogyakarta terdapat 175 SD dengan total 43.861 siswa dan 65 SMP dengan total 20.268 siswa. Sedangkan jenjang SMA/SMK menjadi kewenangan Pemda DIY. Terkait adanya kasus Covid-19 pada guru dan pelajar di Gunungkidul, menurutnya juga menjadi kewaspadaan sehingga prioritas keselamatan warga sekolah saat membuka belajar tatap muka terbatas.
“Makanya kami perlu kehati-hatian kalau ada pembukaan sekolah. Harus ada standar operasional prosedur pada tiap kegiatan sekolah. Saat siswa masuk, pembelajaran bagiamana, guru-guru dan pengantar siswa bagaimana. Kami berupaya seoptimal mungkin meminimalkan potensi Covid-19 di lingkungan sekolah,” terang Budi.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi selaku Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta menyebut selama pandemi kasus positi Covid-19 pada usia anak sekolah di Kota Yogyakarta tidak banyak. Kasus positif Covid-19 untuk anak yang sering ditemukan adalah anak usia bawah 5 tahun atau balita.
“Usia anak sekolah yang kena Covid-19 ada tapi tidak banyak. Selama ini kasus Covid-19 pada anak-anak hanya satu dua orang balita karena terpapar dari ibunya yang positif Covid-19,” papar Heroe.
Ditambahkan sekolah harus menerapkan protokol kesehatan dan membentuk satgas Covid-19 saat membuka belajar tatap muka terbatas. Selain itu ada verifikasi dari satgas kecamatan yang memantau dan memberikan arahan pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah.(Tri)

Read previous post:
UGM Peringkat 57 Universitas Terbaik se-Asia

DEPOK (MERAPI) - Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menempati peringkat ke-57 universitas terbaik se-Asia berdasarkan Quacquarelli Symonds (QS) Asia University

Close