SEKOLAH TATAP MUKA 2 JAM PERHARI-Orangtua Siswa Setuju, Kepsek Siapkan Protokol Kesehatan

UMBULHARJO (MERAPI)- Sebagian orangtua siswa setuju dengan rencana pemerintah yang akan membuka sekolah tatap muka mulai semester genap tahun ajaran 2020/2021 pada Januari nanti. Tapi protokol kesehatan di sekolah harus dijalankan secara ketat untuk mencegah potensi sebaran Covid-19.
Salah satu orangtua siswa, Nurul Fatmawati mengatakan setuju dengan rencana sekolah tatap muka itu. Mengingat selama belajar secara online di rumah mengalami kendala dalam mengajari anaknya yang masih kelas 1 SD. Misalnya terkait materi perhitungan karena dia tidak memiliki latar pendidikan guru.

“Sekolah tatap muka tidak masalah. Yang penting protokol kesehatan dilakukan misalnya anak wajib pakai masker dan face shield, satu kelas tidak penuh semua siswa dan jam belajar tidak sampai siang,” kata Nurul warga Karangkajen, Brontokusuman kepada <I>Merapi<P> di SDN Pujokusuman, Senin (23/11).
Secara terpisah Kepala Sekolah SDN Demangan, Sukawit menyampaikan sudah mempersiapkan protokol kesehatan untuk sekolah tatap muka. Misalnya tempat cuci tangan dengan sabun, cairan pencuci tangan, masker, thermogun, pengaturan jumlah siswa yang masuk secara bergiliran atau shif dan durasi belajar di kelas. Rencana dalam satu kelas hanya akan diisi sekitar 50 persen dari kapasitas dengan durasi belajar selama 2 jam.

“Kalau dinas memperbolehkan itu diserahkan ke kepala daerah. Bergantung Kepala daerah seperti apa. Kami juga akan sosialisasikan ke orangtua dulu. Sistem belajar dibuat shif. Dua jam pertama untuk separoh siswa shif pertama. Lalu jeda satu jam berikutnya untuk shif kedua sisa separoh siswa lainnya juga dua jam,” terang Kawit.
Menurutnya secara umum para orangtua siswa di SDN Demangan ingin anaknya masuk sekolah. Tapi ada sebagian yang khawatir dengan potensi sebaran Covid-19. Oleh sebab itu pihaknya akan mengikuti ketentuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait persetujuan orangtua dalam sekolah tatap muka. Total ada 320 siswa di SDN Demangan yang berasal dari Kota Yogya, Sleman dan Bantul.

“Orangtua yang tidak setuju anaknya sekolah tatap muka akan kami minta buat surat pernyataan dan tanda tangan. Tapi tetap kami berikan layanan pendidikan secara daring,” tambahnya.
Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan sedang menyelesaikan terkait aturan penyelenggaraan sekolah tatap muka agar bisa dilaksankan semester genap depan untuk jenjang SD dan SMP. Dia menegaskan prinsip kehati-hatian dan keselamatan anak dan warga tetap menjadi perhatian, sehingga sekolah harus menerapkan protokol kesehatan dan membentuk satgas Covid-19.
“Kami akan uji coba sekolah tatap muka di bulan November ini untuk melihat kelemahan protokol kesehatannya apa. Rekomendasi kami durasi belajar tatap muka dua jam/hari dengan jumlah siswa sekitar seperempat dari kapasitas kelas. Dalam satu shif pertimbangkan siswa dari lingkungan sama misal satu RW atau satu kelurahan,” jelas Heroe.(Tri)

Read previous post:
RUMAH TERBAKAR DIPICU KORSLETING KIPAS ANGIN-Terjatuh Saat Selamatkan Diri, Nenek Luka Pendarahan Kepala

Close