POSITIF CORONA DI DIY TAMBAH 82 KASUS-Takut Dikarantina, Banyak Warga Tolak Tes Swab

WATES (MERAPI)- Bupati Kulonprogo, Sutedjo mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang upaya pencegahan penyebaran Covid-19 menyusul makin melonjaknya kasus corona di wilayah itu. Sementara itu pasien corona di Yogya bertamah 82 kasus dengan 100 pasien sembuh dan 4 meninggal pada Senin (23/11).
Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kulonprogo, drg Theodola Baning Rahajujati menyampaikan, SE Bupati Kulonprogo dikeluarkan sebagai langkah tindak lanjut terkait kemunculan klaster perkantoran di wilayah ini. Pihaknya melihat, ada kelalaian penerapan protokol kesehatan hingga membuat penyebaran Covid-19 berlangsung cepat dengan jumlah kasus cukup banyak.

“Pimpinan OPD diminta memantau kegiatan di ruang lingkup masing-masing, kemudian wajib menaati protokol kesehatan serta tidak mengadakan perjalanan ke luar daerah bila tidak mendesak,” kata Baning, Senin (23/11).
Dijelaskannya, kepala OPD diminta bersikap lebih tegas agar penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan. Masing-masing OPD juga telah menerima SE Bupati Kulonprogo dan SE Gubernur DIY yang memuat penanganan ASN positif Covid-19.
Baning mengakui, saat ini penerapan protokol kesehatan mulai kendor sehingga pihaknya perlu kembali mengingatkan. Terkait perkembangan kasus Covid-19 di Kulonprogo, Baning menyebut ada penambahan empat kasus positif pada Senin (23/11). Satu kasus berasal dari kontak erat penyiar radio yang sebelumnya melakukan siaran bersama pegawai Dinas Dukcapil, dua kasus kontak dengan di luar klaster dan satu kasus kontak klaster. Baning mengungkapkan, saat ini upaya masyarakat untuk menghindar dari pelaksanaan swab semakin meningkat. Cukup banyak yang menolak diswab karena tidak mau dikarantina. Sebab, sebelum hasil swab keluar masyarakat diminta tidak berpergian sehingga merasa terbelenggu.
“Kita terus lakukan pendekatan. Jika tidak bisa diatasi, akan disambangi Danramil, Kapolsek dan Panewu untuk diberikan penjelasan. Kalau yang sudah terjadi di delapan kapanewon, biasanya mau,” kata Baning.

Ia kemudian mengingatkan masyarakat untuk tidak menolak pelaksanaan tes dan karantina karena telah diatur dalam UU karantina dan UU tentang wabah. Mereka yang menolak justru termasuk perbuatan melawan hukum karena tidak mengikuti perintah petugas.
Sementara itu Pemda DIY melaporkan penambahan 82 kasus positif Covid-19 dari 797 sampel dan 757 orang yang diperiksa sehingga total kasus positif Covid-19 di Yogyakarta sebanyak 5.219 kasus.
“Distribusi kasus berdasarkan domisili terdiri dari 24 warga Kota Yogyakarta, enam warga Bantul, sembilan warga Gunungkidul, dan 43 warga Sleman,” ungkap Juru bicara Pemda DIY untuk penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih.
Disebutkan, distribusi kasus berdasarkan riwayat terdiri dari 41 kasus hasil tracing kasus sebelumnya, 16 kasus periksa mandiri, satu kasus screening karyawan kesehatan, satu kasus screening pekerjaan, lima kasus perjalanan luar daerah, dan 18 kasus belum ada informasi.
Di sisi lain dilaporkan jumlah kasus sembuh sebanyak 100 kasus sehingga total kasus sembuh sebanyak 3.957 kasus, terdiri dari 20 warga Kota Yogyakarta, 60 warga Bantul, empat warga Gunung Kidul, dan 16 warga Sleman. “Dilaporkan empat orang meninggal sehingga total kasus meninggal sebanyak 127 kasus,” imbuhnya.

Sementara itu meskipun kasus positif Covid-19 di Kota Yogyakarta cenderung meningkat, tapi dari segi peta risiko masih masuk zona oranye atau sedang. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta juga memastikan kamar isolasi pada rumah sakit rujukan Covid-19 masih tersedia.
“Sampai saat ini Yogya belum masuk zona merah. Kota Yogya masih masuk zona oranye,” kata Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Senin (23/11).
Dia menyebut dari 45 kelurahan di Kota Yogyakarta sekitar 9 kelurahan masuk zona kuning atau risiko rendan. Sedangkan sisanya yakni 36 kelurahan masuk dalam zona oranye risiko sedang. Pernyataan Heroe itu juga untuk menepis adanya informasi informasi tidak benar yang beredara di media sosial bahwa Kota Yogya masuk zona merah.

“Memang ada peningkatan kasus aktif. Dari peta risiko Kota Yogya selama ini belum pernah masuk zona oranye. Kamar-kamar isolasi di rumah sakit masih tersedia,” ujar Heroe yang juga Wakil Walikota Yogyakarta itu.
Dia menjelaskan total kamar isolasi di rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Yogyakarta ada 141 kamar dan sudah terpakai sebanyak 110 kamar. Kamar isolasi yang terpakai sekitar 79,69 persen. Sedangkan kamar ICU yang digunakan sekitar 61,54 persen.
Pemkot Yogyakarta mencatat per Senin (23/11) pukul 12.00 WIB konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 147 kasus, 552 sembuh dan 32 meninggal dunia. Sedangkan kasus probable ada 10 orang dan suspek 33 orang isolasi.
“Sebagian besar kasus di Kota Yogya dari keluarga. Misal salah satu anggota keluarga keluar kota atau terpapar dari kantor lalu menular di keluarga,” tambah Heroe.

Pihaknya mengimbau masyarakat yang bepergian ke luar kota agar berhati-hati dan menerapkan protokol kesehatan. Terutama di daerah yang berstatus zona merah atau risiko tinggi. Setelah melakukan perjalanan dari luar kota, saat pulang ke Yogya diminta memeriksakan kesehatan dulu untuk mencegah paparan di keluarga. Pada lingkungan keluarga protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak juga harus diterapkan.
“Kami juga memantau dan sidak ke tempat-tempat yang kegiatan protokol kesehatannya kurang bagus. Kegiatan ekonomi, sosial seperti hajatan semua harus jalankan protokol kesehatan. Jangan sepelekan protokol kesehatan karena kebangkitan ekonomi dan sekolah akan terganggu,” pungkasnya.(Unt/Tri/C-4/Usa)

Read previous post:
Terung Ungu Hindarkan Risiko Sakit Jantung

IKHTIAR atau usaha agar bisa mendukung kesehatan secara alami dapat dengan menerapkan beragam langkah. Antara lain rutin mengkonsumsi asupan alami,

Close